Showing posts with label Nur Karim. Show all posts
Showing posts with label Nur Karim. Show all posts

Tuesday, January 27, 2015

Epub Sejarah Wajo : Transliterasi dan Terjemahan Online

Epub Sejarah Wajo Transliterasi dan Terjemahan Online
http://opac.pnri.go.id/DetaliListOpac.aspx?pDataItem=0010-0814001169&pType=Bibid&pLembarkerja=-1
perpusnas.go.id
Buku ini merupakan hasil penyalinan ulang naskah koleksi Perpustakaan Nasional berjudul Sejarah Wajo Online adalah buku digital   dalam format EPUB dan  FlipBooks yang ditampilkan dalam format 3D yang bisa dibuka-buka (flipping). Silahkan Klik gambar bukunya untuk langsung terhubung dengan file onlinenya (digital). Untuk baca ebook lainnya Klik Ebook. PC baca file EPUB dapat Unduh Drivernya dihttp://www.epubread.com/en/, atau http://calibre-ebook.com/.

Untuk Smartphone dapat unduh drivernya di Play Store (UB epub reader), 
" Naskah berkode VT. 127 merupakan salah satu koleksi yang ada di Perpustakaan Nasional RI, dengan judul "Sejarah Wajo". Naskah ini berukuran 26 x 20,3 cm. Aksara Bugis, Bahasa Bugis, bentuk Prosa. Naskah ditulis di atas media kertas eropah,123 halaman terdiri dari 19 baris. Kondisi baik, naskah cukup baik dan jelas terbaca.

Isi Singkat : Naskah ini menceritakan sil-silah Raja Wajo yang pernah memerintah di Wajo, Soppeng, Bone, adanya perjanjian hubungan kerja sama diantara ketiga kerajaan itu antara lain : Hubungan kerja sama antara Wajo, dengan Soppeng dalam berbagai bidang, seperti bidang Politik, sosial, dan ekonomi, begitu pula dengan kerajaan Soppeng dan Bone, dan adat-istiadatnya. Naskah ini ditulis oleh La Matana pada hari Sabtu sore 17 Zulkaidah 1257 Hijriah. Atau Tahun Ha. Sumber : perpusnas.go.id
 

Friday, January 23, 2015

Epub Hikayat Pandawa Lima Online

Epub Hikayat Pandawa Lima Online

perpusnas.go.id
Transliterasi Hikayat Pandawa Lima  Online adalah buku digital   dalam format EPUB dan  FlipBooks yang ditampilkan dalam format 3D yang bisa dibuka-buka (flipping). Silahkan Klik gambar bukunya untuk langsung terhubung dengan file onlinenya (digital). Untuk baca ebook lainnya Klik Ebook. PC baca file EPUB dapat Unduh Drivernya dihttp://www.epubread.com/en/, atau http://calibre-ebook.com/.


Untuk Smartphone dapat unduh drivernya di Play Store (UB epub reader), 

"Naskah yang dialihaksarakan ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional dengan nomor panggil ML 508, yang berjudul Hikayat Pandawa Lima. Dalam Katalogus Koleksi Naskah Melayu (Sutaarga, 1972 : 7), disebutkan bahwa naskah Hikayat Pandawa Lima ini berasal dari Palembang.

Deskripsi naskah ML 508
Ukuran Naskah: 34,5 x 20,5 cm. terdiri atas 55 hlm., memuat 35 baris per halaman. Ukuran blok teks: 15,5 x 26 cm.Teks berbentuk prosa berbahasa Melayu dan beraksara Arab ini ditulis dengan tinta hitam dan merah. Kondisi naskah masih baik, tetapi tulisan tidak begitu jelas terbaca karena hurufnya kecil-kecil. Teks ditulis pada kertas folio bergaris. Tidak ditemukan cap kertas (watermark) pada naskah. Kolofon ditulis pada akhir ceritera sebagai berikut : Tamat kepada tanggal 3, bulan Jumadil Awal, malam Ahad, jam ½ 3 adanya, pada tahun 1336. Maka adalah yang mengarang ini yaitu Kemas Ahmad, pada kampung Ulu.‟

Hikayat Pandawa Limamenceriterakan tentang seorang raja di Kayangan, yang bernama Sri Maharaja Batara Guru. Sang Raja ingin sekali mempunyai seorang isteri yang sangat cantik jelita, maka ia mengutus panglimanya yang bernama Batara Narada turun ke Marcapada untuk menemui Prabu Darmakusuma di negeri Ingmartawangsa. Prabu Darmakusuma bersama keempat saudaranya diminta pergi ke negeri Medangkan Bulan untuk melamar anak Prabu Lingga Buana. Konon raja tersebut mempunyai seorang puteri yang sangat cantik dan elok parasnya. Setelah utusan tersebut sampai ke negeri Medangkan Bulan, disampaikanlah maksud dan tujuannya, yaitu bahwa ia diutus oleh Sri Maharaja Batara Guru untuk melamar putrinya yang bernama Putri Manggarisi. Raja Medangkan Bulan menerima lamaran itu dengan senang hati. Diselenggarakanlah pesta makan dan minum yang meriah siang dan malam.

Sementara itu, Raden Arjuna yang sudah selesai dari pertapaannya selama kurang lebih tujuh tahun bersama Semar, Petruk, dan Nolo Gareng, hendak turun pulang ke negerinya. Dalam perjalanan pulang mereka singgah di negeri Medangkan Bulan untuk melihat keindahan negeri itu. Mereka masuk ke taman penglibur lara dan melihat tuan puteri Manggarisi beserta inang pengasuh dan dayang-dayang sedang mandi bersemburan dengan penuh sukacita. Oleh Raden Arjuna sekalian orang di dalam taman itu terlihat seperti berbagai kuntum bunga. Sial bagi Raden Arjuna, batang pohon yang dipanjatnya patah dan ia terjatuh ke dalam kolam. Ia lalu berpura-pura mati. Mayat Raden Arjuna diangkat ke darat oleh dayang-dayang dan inang pengasuh dan diletakkan di balai kencana.

Semar datang bersama Petruk dan Nolo Gareng sambil menagis melihat tuannya yang telah telah mati. Maka untuk menghidupkan Raden Arjuna kembali, Semar menyarankan agar Puteri Manggarisi memasukkan sepah sirih yang dikunyahnya ke mulut Raden Arjuna. Dengan terpaksa dan menahan malu, tuan puteri memasukkan sepah dari mulutnya ke mulut Raden Arjuna. Ketika Raden Arjuna merasakan mulut tuan puteri, ia membuka matanya lalu duduk seraya memegang tangan puteri Manggarisi. Lalu sang puteri dipangku dan dipeluk diciumnya.

Tuan puteri ingin lari tetapi tidak mampu. Ia dibujuk dengan katakata dan cumbuan yang manis-manis, serta dengan kidung dan kakawin yang dilagukan dengan merdu, seperti kumbang mencari bunga. Luluhlah hati tuan putri dalam pelukan Raden Arjuna. Mereka akhirnya kembali ke dalam mahligai tuan putri di negeri Medangkan Bulan.

Suara Raden Arjuna di maligai tuan putri terdengar oleh Prabu Lingga Buana dan Prabu Darmawangsa yang sedang berkunjung ke negeri Medangkan Bulan. Prabu Lingga Buana merasa malu, namun akhirnya ia bersama-sama Prabu Darmawangsa masuk ke dalam kraton untuk melihat siapa laki-laki yang berani masuk ke maligai tuan putri. Maka Raden Arjuna terlihat oleh Prabu Darmakusuma. Raden Arjuna datang sambil memohon ampun. Prabu Darmakusuma merasa malu karena tugas yang diberikan Batara Guru telah gagal akibat perbuatan adiknya, Arjuna. Ia mohon diri untuk pulang dan melaporkan tugasnya kepada Batara Guru.

Arjuna yang merasa bersalah dan takut akan murka Prabu Darmakusuma akhirmya meninggalkan negeri Medangkan Bulan bersama tuan putri, Semar, Petruk, dan Nolo Gareng. Mereka berjalan keluar masuk hutan, hingga bertemu Batara Kresna. Atas nasehat Batara Kresna, Arjuna mendirikan sebuah negeri.

Batara Guru mendengar bahwa Raden Arjuna membangun negeri di dalam hutan yang diberi nama Ukir Nawang. Ia pun turun ke Marcapada dan membuat negeri pula, yang dinamai Mercu Indera. Ia menamai dirinya dengan Prabu Kilatyana. Maka kemudian terjadilah pertempuran antara Raden Arjuna dari Ukir Nawang dengan Prabu Kilatyana dari Mercu Indera. Keduanya sama-sama sakti, tetapi akhirnya Arjuna memenangkan peperangan karena dibantu Dewa Sang yang Manang yang masuk ke dalam tubuh (raga) Raden Arjuna. Prabu Kilatyana kembali menjelma menjadi Batara Guru dan mengaku kalah, lalu kembali ke kayangan.

Arjuna dan Putri Manggarisi kembali ke negeri Madangkan Bulan. Tuan Putri Manggarisi melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Ganda Baradi. Sewaktu masih dalam kandungan ia ditinggal ayahnya, Raden Arjuna. Ketika hendak merantau, ayahnya berpesan kepada bundanya manakala puteranya ia ingin pergi mencarinya, hendaknya ia membawa panah yang bernama Waradadali. Dengan membawa panah Waradadali, Raden Ganda Baradi pergi mencari ayahnya. Dalam perjalanan ia mengalahkan dan merampas kerajaan Prabu Puspa Indra. Ia lalu mengangkat dirinya menjadi raja dan mengganti namanya menjadi Prabu Gembira Anom.

Ketika terjadi perang antara Pandawa dengan Negeri Astina untuk memperebutkan Dewi Banuwati, Prabu Gembira Anom berada di pihak Astina. Ia berperang melawan Raden Angkawijaya dari Pandawa, yang juga putra Raden Arjuna. Keduanya sama tampan rupanya, sama gagahnya, dan sama cepatnya. Raden Arjuna lalu menggantikan Raden Angkawijaya. Ia terkena panah Prabu Gembira Anom yang bernama panah Waradadali. Senjata itu tak dapat mengenainya, bahkan datang menyembah kaki Raden Arjuna. Setelah mengetahui bahwa Prabu Gembira Anom adalah anaknya putri Manggarisi di negeri Madangkan Bulan, Arjuna memeluk anaknya itu. Mereka membawa Raden Gembira Anom ke negeri Darawati untuk berkumpul dengan keluarga Pandawa. Raden Gembira Anom dikawinkan dengan Dewa Lemanawati dari negeri Astina.

Peperangan demi peperangan terus berlangsung antara keluarga Pandawa dan Astina, serta raja-raja lain yang menjadi musuhnya. Setelah peperangan berakhir Nakula menjadi raja di Putar Tasyik dan Raden Sahdewa dijadikan Prabu Anom Jayakusuma di tanah Keinderaan, merintahkan sekalian dewa-dewa dan mambang peri. Anak Prabu Gambang Kencana berbesan dengan Prabu Astinapati dan Raden Bambang Irawan dijadikan Prabu Anom Mercu Indra merintah jin parayangan di Mercu Indra. Begawan Ingmarta yang menjadi Pendeta Jayakusuma bertapa di gunung Indrakila bersama-sama dengan Raden Arjuna yang menjadi Ajar Laksana Dewa. Raden Jodipati menjadi Putut Jenggala Bilawa. Anak Prabu Pringgandani dan Raden Ontorejo dijadikan raja di Suratalang bernama Ganggasura, dan Raden Nagasena dijadikan raja di dalam Tasyik. Raden Naga Jarataja dijadikan raja di dalam tanah jin yang bernama Hargo Siluman." Sumber: perpusnas.go.id


Wednesday, January 21, 2015

Epub Hikayat Maharaja Jaya Asmara Online

Epub Hikayat Maharaja Jaya Asmara Online

perpusnas.go.id

 Transliterasi Hikayat Maharaja Jaya Asmara Online adalah buku digital   dalam format EPUB dan  FlipBooks yang ditampilkan dalam format 3D yang bisa dibuka-buka (flipping). Silahkan Klik gambar bukunya untuk langsung terhubung dengan file onlinenya (digital). Untuk baca ebook lainnya Klik Ebook. PC baca file EPUB dapat Unduh Drivernya dihttp://www.epubread.com/en/.

Untuk Smartphone dapat unduh drivernya di Play Store (UB epub reader).


"Naskah "Hikayat Maharaja Jaya Asmara" dengan nomor kode koleksi W 148 merupakan satu-satunya naskah yang terdapat di Perpustakaan Nasional RI. Naskah berukuran 33 X 21 CM, berjumlah 416 halaman, tiap halaman terdiri dari 19 baris. Kondisi naskah masih cukup baik, tulisan jelas terbaca tetapi ada beberapa Iembar halaman kertas yang mulai lepas. Naskah ditulis di atas kertas Eropah dengan tinta warna hitam, tidak ditemukan adanya cap kertas (watermark) Jika kertas diterawang. Naskah ini juga tidak memiliki kolofon yang menerangkan tentang penulis/penyalin naskah, tempat, waktu, dan tanggal penulisan naskah.

Ringkasan isi, Maharaja Kardan Syah Alam melamar Suganda Cahaya PuteriGangga Birama di Dar al-Qiyam. Putri itu mengetahui bahwa PangeranIndra Johan Syah dari Yunan lebih berkuasa daripada Kardan Syah Alam, tetapi ia menuruti kehendak ayahandanya untuk kawin dengan Kardan Syah Alam. Kemudian ia melahirkan seorang anak berjenggot bersama sebilah pedang terhunus dan di bawahnya tersandang busurpanah kesaktian. Ia dinamakan Maharaja Jaya Asmara. Sementara itu ibunya tetap mengagumi Indra Johan Syah, yang sedang bersiap-siap menyerang Singgajaya. Kardan Syah Alam yang atas permintaan isterinya sedang mencari kijang, di tengah jalan bertemu dengan Indra Johan Syah. Terjadi perkelahian antara keduanya, dalam pertempuranitu akhirnya Kardan Syah Alam tewas. Indra Johan kemudian masuk kedalam istana dan menemui Suganda Cahaya. Peristiwa terbunuhnyaKardan Syah Alam disaksikan anaknya Jaya Asmara, laluIah dan bersembunyi di tempat penggembala kuda milik ayahnya. Karena tidak suka hubungan ibunya dengan Indra Johan Syah, Jaya Asmara kemudian lari ke Tanjung Banjir, tetapi kemudian disusul oleh ibunya dan disuruh mengabdi kepada Indra Johan Syah. Namun kemudian jiwa Jaya Asmara semakin terancam oleh Indra Johan Syah, maka kemudian ia lari lagidan ikut berlayar dengan para pelaut dengan memakai nama Bujang Ali. Dalam pelayarannya ia sampai di Ajam dan dibeli oleh Raja DewaLaksana yang mempunyai puteri bernama, Seri Kamkama Kembar Bunga. Kemudian ia dijadikan tukang kuda di istana. Puteri Kamkama Kembar bunga begitu mencintai Bujang Ali.Sementara itu Raja Jin Islam di Jaya Lengkiri, yaitu Syeikh Alam Daksina melamar secara paksa puteri Ajam, Seri Kamkama Kembar Bunga. Upaya Raja Jin mendapat perlawanan dari sang puteri dan BujangAli. Dengan pemberian kuda wasiat berwarna biru dan kumala sakti pemeberian sang puteri, Bujang Ali bertempur dan banyak membunuh prajurit Syeikh Alam Daksina.       Di Cahaya Pelingkan seorang raja mambang bernama Maharaja Indewa Dewi. Ia memiliki putera bemama Dewa mambang dan Puteri bernama lram Iram Bunga. Dewa Mambang melamar puteri Ajam. la bernama Syeikh Alam Daksina dan Dewa Laksana berperang melawan Bujang Ali. Dalam peperangan itu Dewa Mambang berhasil menangkap saingan-saingannya dengan panah wasiat dan membawa ke negerinya. Bujang Ali tampil dan berterus terang bahwa ia adalah Jaya Asmara dan menyatakan cinta kepada Puteri Kamkama. Dewa Mambang yang tak kuasa melawan Jaya Asmara, memaksa adiknya supaya masuk kedalam peti wasiat. Peperangan berkobar lagi, Dewa Mambang tertawan dan Iram-Iram Bunga terbang kembali ke istana, kemudian disusul oleh Jaya Asmara yang minta kepada Maharaja Indra Dewa untuk menyerahkan rantai wasiat dan memanggil Syeikh Alam Daksina dan Dewa Laksana. Dewa Laksana telah mengetahui siapa sebenarnya Bujang Ali, laIu mengajak kerjasama Syeikh Alam Daksina mengirimkan surat kepada Maharaja Indra Dewa dengan permintaan agar Jaya Asmara dibunuh. Namun permintaan itu tidak dipenuhi, sebaliknya Jaya Asmara dikawinkan dengan puterinya Iram-Iram Bunga. JayaAsmara kembaIi ke Ajam ketika isterinya, Iram-Iram Bunga sedang hamil. Ia menyamar sebagai pengemis dan mendatangi Puteri Kamkama. Sementara itu Dewa Laksana mendengar bahwa Syeikh Alam Daksina akan menyerang, maka ia meminta kepada puterinya agar memanggil Jayya Asmara. Tiba-tiba pengemis itu berubah kembali menjadi Jaya Asmara dan diterima baik oleh Dewa Laksana. Puteri Kamkama dikhwinkan dengan Jaya Asmara yang berlangsung dengan sangat meriah. Syeikh Alam Daksina yang mengetahui Jaya Asmara telah kembaIi ke Ajam menjadi sangat marah dan kecewa, laIu kembali kenegerinya. Peperangan melawan Raja Jin, Syeikh Alam Daksina terus berlangsung, dan pada akhirnya dapat dikalahkan Jaya Asmara. Demikian juga kerajaan Lingga Jaya dapat dikuasai Jaya Asmara, setelah rajanya Indra Johan Syah dikaIahkan dan terbunuh daIam pertempuran tersebut." Sumber : perpusnas.go.id.