Cerita Susahnya Mengurus Visa ke AS, Bagaimana Trik Agar Mudah Mendapatkannya
 |
| kabarinews.com |
AS menerapkan standar tinggi untuk
memberikan visa bagi para traveler. Maklum, sejak tragedi 11 September,
AS sangat berhati-hati terhadap terorisme. Jangan takut, asal kita tahu
triknya, visa AS akan mudah didapatkan.
Amerika Serikat? Ih..
saya tidak akan pernah mau ke sana, untuk apa mengunjungi negara yang
selalu mengkambinghitamkan orang lain. Itulah yang ada di pikiran saya
sampai akhirnya harus kesana untuk suatu pekerjaan.
Perlu salat
istikharah berkali-kali untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut.
Tantangan pertama? Visa, saya berjilbab, tidak suka pada apa yang
dilakukan pemerintah AS pada negara lain, dan tabungan kurang dari dari
angka Rp 300 juta yang menurut berita adalah batasan minimal. Tapi tidak
ada salahnya mencoba.
Langkah pertama pengurusan visa USA
adalah pendaftaran DS 160, lewat agen travel atau daftar sendiri,
hasilnya akan sama menurut salah satu agen travel yang saya temui di
kedutaan. Bacalah informasi di website kedutaan USA Indonesia di situs
jakarta.usembassy.gov pilih informasi untuk non immigrant dan baca juga
FAQ-nya.
Bagi yang mau mendaftar sendiri, form DS 160 bisa diklik
di halaman website yang saya sebutkan di atas dan tidak harus langsung
selesai, jadi bisa di-save dulu dan persiapkan lagi data yang kurang
kemudian nanti bisa login lagi dan menyelesaikan semua kolom isian,
bayar ke bank dan terakhir mendaftar untuk hari dan jam wawancara.
Isi
semua pertanyaan di form DS 160 dengan benar dan Anda mendapat satu
kali kesempatan untuk mengubah jadwal wawancara yang sudah terdaftar
sebelumnya, jika misalnya tiba-tiba Anda berhalangan pergi wawancara.
Siapkan semua dokumen yang diminta di website dan dokumen tambahan yang
dirasa perlu,
Bagi Anda yang ragu dengan kondisi keuangan,
tabungan di angka Rp 50 juta sudah mencukupi. Namun, jangan tiba-tiba
seminggu sebelum wawancara dana tabungan anda tiba-tiba membengkak
karena pengalaman waktu membantu pengurusan visa turis punya
teman-teman, itu bisa dipermasalahkan.
Jika pergi dengan sponsor,
data dana yang diberikan oleh sponsor atau tabungan sponsor harus ikut
diperlihatkan. Bagi muslimah yang berjilbab mendaftarlah dengan pasfoto
berjilbab namun menampakkan telinga.
Pada hari H wawancara visa,
saya datang 15-30 menit sebelum jadwal wawancara agar bisa langsung
antre dan tidak diusir ke kolong jembatan rel komuter untuk Kedubes AS
di Jakarta dan membawa barang yang penting saja agar tidak repot dengan
barang yang terpaksa disita sementara, termasuk parfum walau dengan
ukuran sample ataupun kunci rumah. Walau ada penitipan tas tapi
penyitaan barang terlarang tetap dilakukan.
Kemudian di antrean
dalam, jika Anda pergi dengan kelompok dan ada undangan atas nama
kelompok tersebut inilah saatnya Anda bergabung dengan teman-teman, buat
kelompok kecil antara 2-5 orang, dan beritahukan pada petugas loket
yang meminta paspor bahwa Anda adalah teman satu kelompok.
Hal
ini juga berlaku bagi rombongan keluarga baik yang berangkat dengan
undangan maupun tanpa undangan. Jadi bisa saling mendukung atau bisa
juga malah menjadi penyebab kegagalan. Hati-hati dalam memilih teman
kelompok.
Setelah menyerahkan paspor dan foto, saya masuk ke area
ruang tunggu luar di mana saya punya waktu untuk membeli makanan atau
minuman yang tersedia di sana. Setelah itu, ketika nomor kelompok saya
dipanggil, kami masuk ke ruang tunggu dalam dan menunggu giliran untuk
scan fingerprint dan setelah itu kami pindah ke area tempat duduk untuk
wawancara.
Awalnya saya kira akan masuk ke satu ruangan tertutup
untuk wawancara, ternyata kita hanya di wawancara di loket-loket dan
hal-hal yang dibicarakan terdengar oleh semua orang yang menunggu di
ruangan tersebut. Kalau tidak salah ada 7 loket dan ada 2 pewawancara
yang terkenal susah memberikan kertas putih yang sangat diharapkan oleh
pemohon visa.
Begitu mendengarkan pembicaraan mereka, ternyata
benar dua orang itu sangat susah untuk diyakinkan. Mudah-mudahan saya
tidak diwawancara oleh salah satu dari mereka berdua. Namun apa daya,
saya malah mendapatkan salah satunya. Cukup pesimis karena 5 anggota
kelompok saya tidak mengenal satu sama lain.
Pewawancara saya
adalah pria berwajah Latin atau Eropa Timur, senyum sih, tapi susah
untuk diyakinkan. Setelah mewawancara ibu penyanyi dan keluarganya,
komentar yang keluar adalah negatif. Setelah itu giliran saya, dilihat
paspor dan diberi beberapa pertanyaan umum. Sejauh ini aman karena saya
tidak terjebak dengan pertanyaan mengenai pekerjaan.
Namun ketika
tiba giliran memperlihatkan buku tabungan, karena agak ragu dengan
nominal tabungan saya yang di bawah 300 juta, saya menjawab, "Saya bawa
buku tabungan namun saya pergi dengan biaya dari sponsor dan ini
fotokopi deposito sponsor saya."
Nah agak bermasalah deh, si Mas
Latin itu langsung bilang ke temannya, rombongan ini benar-benar aneh,
ada bapak yang mengaku menemani istrinya, dan anak yang mengaku sebagai
manajer ibunya dan sekarang wanita ini tidak mau memperlihatkan buku
tabungannya tapi dia punya sponsor. Jawaban temannya adalah tidak usah
diloloskan. Mendengar itu sih saya senang juga karena tidak perlu ke AS.
Akhirnya
pewawancara saya kembali bertanya tentang sponsor, membolak-balik
paspor dan sekarang termasuk paspor lama yang ada student visa Malaysia.
Pertanyaan yang muncul adalah, "Kamu kuliah apa di Malaysia?", dan yang
sangat menjebak adalah "Which one is better, Indonesia or Malaysia?"
Spontan
saya menjawab "Of course Indonesia, can't u see it? People are nicer
here." Karena memang itu yang saya rasakan, jadi hal itu terpancar dalam
raut muka saya. Mas Latin itu langsung tertawa dan mengangguk dan saat
itulah saya tahu saya berhasil meyakinkan dia. Akhirnya anggota terakhir
diwawancara.
Nah, lagi-lagi dari berbagai pertanyaan pada orang
tersebut akhirnya saya yang menjawab seperti pada 3 anggota rombongan
lainnya karena ternyata mereka tidak membaca semua data yang diberikan
oleh ketua rombongan. Jadi si Mas Latin malah bertanya masalah rombongan
hanya pada saya dan terakhir dia senyum dan bilang selamat liburan
sambil menyerahkan si kertas putih.
Keluar dari kedutaan ternyata
saya mendapat informasi tidak semua anggota rombongan lolos, padahal
mereka sudah membawa deposito pribadi dan orang tua yang jumlahnya pasti
jauh di atas angka Rp 300 juta. Dari berbagai pertanyaan dan jawaban
yang saya dengar saat menunggu giliran ada beberapa hal yang membuat
seseorang gagal.
Pertama yaitu ragu dan tidak jelas dengan
tujuannya sendiri. Contohnya ada seseorang yang diterima kuliah di sana
namun mengambil jurusan yang berbeda dengan jurusan yang dia ambil di
S1. Awalnya reaksi pewawancara sangat positif namun akhirnya dia gagal
di pertanyaan apa alasan dia mengambil jurusan yang berbeda. Seingat
saya dia mengatakan pindah jurusan karena suka dan ingin mencoba kuliah
di jurusan baru tersebut.
Kedua adalah pewawancara tidak yakin
bahwa kita akan kembali ke Indonesia. Saya lihat ada yang tidak lolos
karena memberi kesan bahwa dia terlalu cinta AS atau negara lain atau
memberi kesan bahwa dia tidak suka negaranya sendiri.
Pertanyaan
yang saya dapat adalah, "Kenapa kamu tetap mau bekerja di Indonesia
sedangkan kamu akan berhasil di Amerika?" Jawaban saya adalah, "Karena
saya mau berhasil di sini, dan suatu saat menjual produk saya ke
Amerika." Jawaban yang berhasil karena pewawancara saya langsung
tersenyum.
Ada juga dosen salah satu universitas negeri yang lama
sekali baru bisa meyakinkan pewawancaranya bahwa setelah lulus nanti
dia harus kembali ke Indonesia, karena beasiswanya dari pemerintah
Indonesia.
Ketiga adalah terlalu banyak bicara, memberikan
jawaban yang bertele-tele apalagi mengada-ada. Para pewawancara adalah
orang-orang yang sangat terlatih membaca raut muka dan nada bicara
seseorang. Di beberapa orang saya lihat malah jawaban yang tidak perlu
itu yang membuatnya gagal.
Keempat adalah bersikap baik dan
normal, tidak sombong dan jadi diri sendiri. Mau Anda pakai tas Hermes
kalau jawaban Anda menyiratkan sikap sombong, selamat kertas merah akan
Anda dapatkan. Kebetulan saat saya menunggu wawancara ada yang begitu.
Kata
orang, sesuatu yang berhubungan dengan Islam akan dicurigai, menurut
saya sih tidak. Jawaban kita dan sikap kita lah yang menentukan. Itu
terbukti mulai dari pengurusan visa sampai pengalaman 2 kali ke AS
apalagi ketika jalan sendirian, saya selalu disapa ramah bahkan oleh
cowok-cowok yang dalam pikiran saya tidak akan menyapa cewek berjilbab.
Namun
selalu saja ada yang menyapa, "Hi, how are you, nice day." Bahkan
menolong dengan sukarela memberikan kartu TAP-nya ketika saya mencoba
naik transportasi umum di Beverly Hills. Yang penting senyum dan
bersikap baik, malah ada yang memberi uang receh karena uang receh saya
kurang. Transportasi umum di sana jarang yang menyediakan uang kembalian
jadi harus sedia uang pas, kecuali transportasi khusus wisata.
Dari
pengalaman saya pribadi dan pengalaman orang-orang yang saya bantu
pengurusan visanya, sebenarnya yang terpenting adalah perhatikan
pertanyaan. Santai saja namun harus mempersiapkan jawaban yang jujur dan
bisa meyakinkan petugas wawancara tersebut.
Sumber berita DetikCom