Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Sunday, March 8, 2015

Kuliner Tahu Sumedang dan Kisahnya

Kuliner Tahu Sumedang dan Kisahnya
 
ariechicarito.blogspot.com
Siang ini memang enaknya bersantai sambil ngemil makanan gurih. Tahu Sumedang yang hangat, main enak dikunyah dengan cabai rawit segar. Apalagi diiringi minum segelas es teh manis yang dingin segar. Yummy!

Tahu yang berbentuk kotak dengan ukuran 2.5x2.5 cm ini bernama tahu Sumedang. Sesuai dengan namanya, tahu ini merupakan salah satu makanan khas daerah Sumedang, sekitar 46 km dari Bandung, Jawa Barat.

Tahu asal Sumedang ini juga biasa disebut dengan tahu Bunkeng atau Bungkeng. Bungkeng merupakan nama dari anak Ong Kin No, sang peracik tahu. Awalnya ia hanya membuat tahu untuk kebutuhan keluarga. Pada tahun 1917 ia membuka toko pertamanya.

Pada tahun 1928, Bupati Sumedang mencium aroma yang gurih dari tahu Bunkeng kemudian langsung menicicipnya. Ternyata Bupati sangat menyukai tahu ini dan yakin bahwa tahu Bunkeng akan laris manis jika di jual di pasaran. Kini dari satu toko di Tegalkalong berkembang menjadi beberapa toko. Bahkan kini dikenal hingga ke seluruh Indonesia.

Cara pembuatan tahu Sumedang hampir sama dengan tahu pada umumnya. Tahu ini dibuat dengan bumbu yang sama yaitu bawang putih dan diberi koagulan atau biang tahu yang disimpan selama 2-3 hari, yang prosesnya menggunakan asam cuka.

Tahu yang dibuat dengan cara tradisional memang tidak bertahan lama jika didiamkan pada suhu ruang. Tekstur kulitnya akan terasa lebih liat, tidak garing. Karnea itu penjaja penjual tahu Sumedang umumnya menggoreng tahu secara langsung saat tahu dipesan.

Tahu yang dibuat dengan bahan alami juga tidak bertahan lama dalam suhu ruang. Akan tetapi jika disimpan dalam kulkas lebih tahan lama. Cara menggorengnyapun juga harus tepat yaitu dalam minyak panas dan banyak hingga tahu terendam.

Jika Anda membeli dalam jumlah yang banyak, tahu ini akan dikemas dalam wadah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu yang diberi kertas roti di dalamnya. O,ya umumnya penjual tahu juga menjual lontong atau buras. 

Sumber berita DetikFood

Friday, October 31, 2014

Cerita Penduduk Pangandaran Mengenai Sosok Menteri Susi

Cerita Penduduk Pangandaran Mengenai Sosok Menteri Susi
news.metrotvnews.com
Suara tangisan terdengar di antara ribuan warga yang memadati pekarangan rumah Susi Pudjiastuti, tahun 2006 silam. Wajah yang ketakutan, kosong, dan bingung harus berbuat apa.

Pemberitaan luar biasa atas tsunami Aceh pada 2004 silam membuat warga Pangandaran panik tatkala gempa yang menimbulkan tsunami melanda wilayahnya. Memang kekuatannya tidak sebesar Aceh, tetapi toh bencana itu memorak-porandakan Pangandaran.
,
Di tengah kepanikan tersebut, seolah hanya satu rumah yang ada di dalam benak warga untuk berlindung, yakni rumah Susi Pudjiastuti. Alhasil, mereka berbondong-bondong ke rumah Susi dan menunggu instruksinya.

Di sisi lain, Susi terlihat serius berbincang dengan sejumlah pegawainya. Dari gerak tangannya, ia seperti sedang memerintahkan sesuatu. Benar saja, tak berapa lama, pegawainya termasuk asisten rumah tangga menyebar. Ada yang ke dalam rumah, ada pula yang membantu warga menenangkan diri, dan pergi menyisir mayat korban tsunami.

Dari dalam rumah, asisten rumah tangga Susi membawakan sejumlah makanan untuk para pengungsi. Susi membuka semua pintu masuk rumah dan perusahaannya untuk pengungsi. Bukan hanya untuk tempat tinggal sementara, melainkan juga untuk makanan, minuman, semangat, dan apa pun yang dibutuhkan.

“Karena kami kedinginan, kami juga mendapatkan selimut dan pakaian. Saat itu harapan kami memang hanya pada Bu Susi. Selain dia orangnya baik, dia punya pengalaman dari gempa Aceh. Makanya kami berbondong-bondong datang ke sini,” ucap Dadang (43), warga Pangandaran.

Selain itu, Susi mengosongkan cooler miliknya untuk mayat. Hingga bantuan datang, mayat-mayat korban tsunami tersebut sebagian disimpan di tempatnya Susi.

Kondisi ini berlangsung beberapa hari hingga kondisi Pangandaran reda dan pengungsi ditempatkan di pengungsian sementara.

Susi pun menyemangati para nelayan untuk mengendalikan traumanya. Salah satunya dengan kembali melaut. Susi berjanji, berapa pun ikan yang dihasilkan akan dibeli olehnya dengan harga yang tinggi.

Kini, pada tahun 2014, nama Susi kembali menjadi perbincangan. Dia dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Kerja.

Sumber berita Kompas.com

Thursday, October 16, 2014

Seorang Gadis yang Memiliki Ratusan Kutu di Kepala di Unggah ke Situs Youtube

Seorang Gadis yang Memiliki Ratusan Kutu di Kepala di Unggah ke Situs Youtube 

Beberapa ekor kutu yang bersemayam di kepala seseorang pasti sudah membuat risi. Lalu, bagaimana jika ada ratusan kutu yang diperkirakan bersarang di rambut sejak lama? Hii, ngeri!

Itulah yang terjadi pada seorang gadis dalam video yang diunggah ke situs Youtube. Dikutip pada Kamis (16/10/2014), dalam video tersebut, terlihat sang ibu perlahan menyisir rambut si anak yang tebal nan hitam.

Tak butuh waktu lama, perlahan pun ratusan kutu sudah mengumpul di sisir itu. Ketika kamera memperbesar penampakan kutu itu, dengan warnanya yang agak keputihan, kutu itu terlihat bergerak-gerak di atas sisir tersebut.

Meski tidak dijelaskan di mana gadis ini tinggal, tetapi lewat logat yang terdengar ketika si perekam berbicara, diduga gadis itu berasal dari India. Si anak yang berambut pendek itu pun terlihat santai ketika sang ibu menyisiri rambutnya.

Menanggapi hal ini, pemilik salon yang menyediakan produk perawatan rambut berkutu, Dee Wright meyakini jika kutu itu sudah ada di rambut si gadis dalam waktu yang lama dalam jumlah banyak. Bahkan, ia menduga kutu-kutu itu sudah membuat sarang di rambut si gadis.

"Kutu-kutu itu terlihat sangat banyak dan memang kutu-kutu itu sudah menjadikan rambut si gadis tempat mereka tinggal. Saya belum pernah melihat kasus seperti ini," tutur Wright kepada Mail Online dan dikutip dari Mirror.

Dikatakan Wright, ketika ada begitu banyak kutu di rambut, mereka akan terikat satu sama lain membentuk gumpalan demi bertahan hidup. Ia menambahkan, kutu betina bisa menghasilkan 300 telur dan dalam waktu 30 hari telur itu sudah berubah menjadi kutu dewasa.

Wright menyarankan setelah menggunakan sisir kutu, sikat-sikat pada sisir sebaiknya dicuci menggunakan air hangat dan sabun supaya kembali steril. Sementara itu, penelitian dalam Journal of Medical Entomology menyebutkan penggunaan kondisioner rambut bisa membersihkan telur kutu pada rambut secara efektif.

Sumber berita DetikHealth

Thursday, August 21, 2014

Sepenggal Kisah Pejuang Pembela Kemerdekaan

Sepenggal Kisah Pejuang Pembela Kemerdekaan
 
desapena.blogspot.com

DJAM 6.30 seketika didengar selompret-bangoen. Mereka bangoen melontjat dengan serentak. Sambil mandi dengan air dingin, tiap-tiap mereka berdjandji didalam hatinja masing-masing: ... Hari inipoen akoe berdjoeang koeat. Setelah bersembahjang soeboeh di soerao, laloe mereka bersantap. Sembahjang 5 kali sehari tetap dilakoekan oleh mereka. Djam 8.00 berbaris oentoek Tenko (apel). Menghormati djaoeh kearah Istana Tokyo dalam soesana chidmat membangkitkan semangat perdjoeangan oentoek menghantjoer-leboerkan moesoeh.”

Itulah sepenggal cerita berjudul ”Moelai Pagi Sampai Malam” pada poster reproduksi halaman majalah Djawa Baroe 1944, koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia, kenangan dari Indroyono S/Sesmenko Kesra, dan reproduksi dari koleksi Museum Pembela Tanah Air Bogor.

Itu satu dari 20 poster reproduksi yang menceritakan perjalanan laskar PETA yang dipamerkan di Terowongan Jalan Raya Pajajaran, Kota Bogor, Jumat (15/8/2014). Selain poster reproduksi majalah, ada dua lukisan yang mengisahkan suasana perang kemerdekaan di Bogor. Ada juga poster reproduksi lukisan suasana pembentukan Badan Keamanan Rakyat, cikal bakal TNI.

Poster itu bercerita tentang para prajurit PETA tengah memperbaiki tank tempur, suasana hari besar PETA, upacara PETA yang dipimpin oleh Saiko Shikikan (perwira tinggi Jepang), kedatangan Presiden Soekarno di Bogor, serta defile dan parade prajurit PETA.

Markas PETA kini menjadi Museum PETA dan Pusat Pendidikan Zeni AD di Jalan Jenderal Soedirman, Kota Bogor, dengan ujung selatan adalah gerbang Istana Bogor dan ujung utara adalah Simpang Air Mancur (dulu tugu triangulasi topografi).

Kalimat-kalimat dalam poster itu masih ejaan lama. Misalnya, ”Madjoelah tentera Pembela Tanah Air kita. Sifat prawira pada para pemimpin tentara Pembela Tanah Air jang soedah bangkit dengan memikoel kewadjiban berat: membela Tanah Air”.

Dari dua kalimat itu ditemukan kemungkinan salah tik atau penyempurnaan. Ada kata ’tentera’ dan ’tentara’. Selain itu, ditemukan kata ’Perdjoerit PETA’ yang maksudnya tentu prajurit.

Membaca tulisan Djawa Baroe yang direproduksi ke poster itu menjadi keasyikan tersendiri bagi pejalan yang kebetulan melintas terowongan yang menghubungkan trotoar depan Kampus Baranangsiang Institut Pertanian Bogor dan trotoar depan Gerbang Timur Kebun Raya Bogor (KRB). Yang penasaran berhenti untuk membaca kisah-kisah PETA. Hati pembaca sedang digugah bahwa Kota Bogor punya peran cukup penting dalam perjuangan kemerdekaan.

Poster-poster itu dipamerkan untuk memeriahkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pameran berlangsung sebulan. Pameran juga bertujuan kampanye kepada masyarakat agar menyeberang lewat prasarana resmi terowongan, jembatan, dan pelintasan (zebra cross). Sebelum pameran poster, terowongan itu dipenuhi deretan lukisan karya budayawan Bogor. Tujuannya, menjadikan prasarana penyeberangan menjadi galeri dan ruang publik yang nyaman dan aman.

Lorong itu memang belum seindah, semegah, dan semewah stasiun metro Komsomolskaya di Moskwa yang didirikan pada 1935, berukir, berpanel, dan berlukisan kisah kemerdekaan rakyat Rusia dari sistem monarki.

Di pintu masuk terowongan diletakkan dua tong sampah berbahan plastik. Yang hijau untuk sampah organik, yang jingga untuk sampah anorganik.

Gerbang terowongan dibuka pukul 07.00 dan ditutup pukul 22.00. Sekeliling terowongan diletakkan pot bunga. Dinding yang saat bulan puasa berkali-kali dicorat-coret itu telah dibersihkan dan ditutupi dengan taman vertikal. Menjelang 17 Agustus 2014, dinding terowongan juga dihias dengan bendera Merah-Putih.

Terowongan didirikan pada 2011 dengan dana Rp 3 miliar oleh pemerintah pusat. Terowongan dibuat untuk penyeberangan, terutama pengunjung KRB dengan asumsi bus dan kendaraan pengunjung parkir di areal Botani Square. Dari pusat belanja ini, orang bisa berjalan lewat terowongan dan masuk ke KRB dari gerbang timur.

Namun, dalam perjalanannya, terowongan ini tidak berfungsi maksimal. Prasarana tidak dijaga dan tidak dirawat. Akibatnya, terowongan sering menjadi tempat orang buang hajat, bahkan tempat kejahatan. Prasarana ini sering bau pesing, kumuh, jorok, dan ditemukan banyak kondom bekas. Kamera pemantau yang terpasang pun telah rusak. Terowongan akhirnya pernah ditutup.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang dilantik pada 7 April 2014 ditantang warga untuk mengembalikan fungsi terowongan itu. Tantangan dijawab dengan perbaikan. Pelat seng diganti dan dilas, pelbagai coretan ditimpa dengan cat, listrik dinyalakan, lorong dipercantik dan dipasangi lukisan, serta pemasangan kamera pemantau.

Terowongan dikelola bersama oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DKP), serta Satuan Polisi Pamong Praja. DKP bertugas merawat terowongan, tanaman, tempat sampah, dan trotoar di sekitar prasarana. Disbudpar bertugas mengelola galeri dan mengupayakan atraksi seni budaya secara rutin, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Satpol PP bertugas menjaga terowongan untuk mencegah prasarana ini kembali menjadi tidak keruan seperti sebelumnya.

 Sumber berita Kompas.com

Monday, August 18, 2014

Relawan Mer-C Indonesia di Palestina Menikahi Gadis Asal Gaza

 Relawan Mer-C Indonesia di Palestina Menikahi Gadis Asal Gaza
mer-c.org

Namanya Husein. Dia adalah relawan Indonesia di Palestina. Husein di Palestina sebagai relawan dalam wadah organisasi Mer-C Indonesia. Di tengah gencatan senjata Hamas dan Israel, kabar gembira datang dari Husein. Dia menikahi gadis pujaannya asal Gaza.

"Berita bahagia. Gencatan senjata, salah seorang relawan @RSIndonesia menikahi gadis Gaza. Barakallahu lakuma," tulis MER-C Indonesia dalam akun twitternya @mercindonesia memberi kabar, seperti dikutip detikcom, Selasa (19/8/2014).

"Relawan yg berbahagia bernama Husein, menikahi pujaan hatinya, Jinan bunga Gaza yang juga hafidzoh (penghafal Quran)," tambah MER-C.

Husein ini selain sebagai relawan, juga menjadi kontributor MetroTV untuk wilayah Gaza. Sudah beberapa waktu, Husein tinggal di Gaza.

MER-C juga memasang foto Husein dan istrinya yang memakai abaya pakaian khasa perempuan Timur Tengah. Husein yang mengenakan peci warna hitam tampak tersenyum sumringah.

"Berarti, sudah 2 orang relawan yang menikahi gadis Gaza. Sebelumnya di tahun 2011 Abdillah Onim juga menikahi gadis Gaza. MasyaAllah," tutup MER-C.

Sumber berita DetikNews

Sunday, August 17, 2014

Cerita Susahnya Mengurus Visa ke AS, Bagaimana Trik Agar Mudah Mendapatkannya

Cerita Susahnya Mengurus Visa ke AS, Bagaimana Trik Agar Mudah Mendapatkannya
kabarinews.com
AS menerapkan standar tinggi untuk memberikan visa bagi para traveler. Maklum, sejak tragedi 11 September, AS sangat berhati-hati terhadap terorisme. Jangan takut, asal kita tahu triknya, visa AS akan mudah didapatkan.

Amerika Serikat? Ih.. saya tidak akan pernah mau ke sana, untuk apa mengunjungi negara yang selalu mengkambinghitamkan orang lain. Itulah yang ada di pikiran saya sampai akhirnya harus kesana untuk suatu pekerjaan.

Perlu salat istikharah berkali-kali untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut. Tantangan pertama? Visa, saya berjilbab, tidak suka pada apa yang dilakukan pemerintah AS pada negara lain, dan tabungan kurang dari dari angka Rp 300 juta yang menurut berita adalah batasan minimal. Tapi tidak ada salahnya mencoba.

Langkah pertama pengurusan visa USA adalah pendaftaran DS 160, lewat agen travel atau daftar sendiri, hasilnya akan sama menurut salah satu agen travel yang saya temui di kedutaan. Bacalah informasi di website kedutaan USA Indonesia di situs jakarta.usembassy.gov pilih informasi untuk non immigrant dan baca juga FAQ-nya.

Bagi yang mau mendaftar sendiri, form DS 160 bisa diklik di halaman website yang saya sebutkan di atas dan tidak harus langsung selesai, jadi bisa di-save dulu dan persiapkan lagi data yang kurang kemudian nanti bisa login lagi dan menyelesaikan semua kolom isian, bayar ke bank dan terakhir mendaftar untuk hari dan jam wawancara.

Isi semua pertanyaan di form DS 160 dengan benar dan Anda mendapat satu kali kesempatan untuk mengubah jadwal wawancara yang sudah terdaftar sebelumnya, jika misalnya tiba-tiba Anda berhalangan pergi wawancara. Siapkan semua dokumen yang diminta di website dan dokumen tambahan yang dirasa perlu,

Bagi Anda yang ragu dengan kondisi keuangan, tabungan di angka Rp 50 juta sudah mencukupi. Namun, jangan tiba-tiba seminggu sebelum wawancara dana tabungan anda tiba-tiba membengkak karena pengalaman waktu membantu pengurusan visa turis punya teman-teman, itu bisa dipermasalahkan.

Jika pergi dengan sponsor, data dana yang diberikan oleh sponsor atau tabungan sponsor harus ikut diperlihatkan. Bagi muslimah yang berjilbab mendaftarlah dengan pasfoto berjilbab namun menampakkan telinga.

Pada hari H wawancara visa, saya datang 15-30 menit sebelum jadwal wawancara agar bisa langsung antre dan tidak diusir ke kolong jembatan rel komuter untuk Kedubes AS di Jakarta dan membawa barang yang penting saja agar tidak repot dengan barang yang terpaksa disita sementara, termasuk parfum walau dengan ukuran sample ataupun kunci rumah. Walau ada penitipan tas tapi penyitaan barang terlarang tetap dilakukan.

Kemudian di antrean dalam, jika Anda pergi dengan kelompok dan ada undangan atas nama kelompok tersebut inilah saatnya Anda bergabung dengan teman-teman, buat kelompok kecil antara 2-5 orang, dan beritahukan pada petugas loket yang meminta paspor bahwa Anda adalah teman satu kelompok.

Hal ini juga berlaku bagi rombongan keluarga baik yang berangkat dengan undangan maupun tanpa undangan. Jadi bisa saling mendukung atau bisa juga malah menjadi penyebab kegagalan. Hati-hati dalam memilih teman kelompok.

Setelah menyerahkan paspor dan foto, saya masuk ke area ruang tunggu luar di mana saya punya waktu untuk membeli makanan atau minuman yang tersedia di sana. Setelah itu, ketika nomor kelompok saya dipanggil, kami masuk ke ruang tunggu dalam dan menunggu giliran untuk scan fingerprint dan setelah itu kami pindah ke area tempat duduk untuk wawancara.

Awalnya saya kira akan masuk ke satu ruangan tertutup untuk wawancara, ternyata kita hanya di wawancara di loket-loket dan hal-hal yang dibicarakan terdengar oleh semua orang yang menunggu di ruangan tersebut. Kalau tidak salah ada 7 loket dan ada 2 pewawancara yang terkenal susah memberikan kertas putih yang sangat diharapkan oleh pemohon visa.

Begitu mendengarkan pembicaraan mereka, ternyata benar dua orang itu sangat susah untuk diyakinkan. Mudah-mudahan saya tidak diwawancara oleh salah satu dari mereka berdua. Namun apa daya, saya malah mendapatkan salah satunya. Cukup pesimis karena 5 anggota kelompok saya tidak mengenal satu sama lain.

Pewawancara saya adalah pria berwajah Latin atau Eropa Timur, senyum sih, tapi susah untuk diyakinkan. Setelah mewawancara ibu penyanyi dan keluarganya, komentar yang keluar adalah negatif. Setelah itu giliran saya, dilihat paspor dan diberi beberapa pertanyaan umum. Sejauh ini aman karena saya tidak terjebak dengan pertanyaan mengenai pekerjaan.

Namun ketika tiba giliran memperlihatkan buku tabungan, karena agak ragu dengan nominal tabungan saya yang di bawah 300 juta, saya menjawab, "Saya bawa buku tabungan namun saya pergi dengan biaya dari sponsor dan ini fotokopi deposito sponsor saya."

Nah agak bermasalah deh, si Mas Latin itu langsung bilang ke temannya, rombongan ini benar-benar aneh, ada bapak yang mengaku menemani istrinya, dan anak yang mengaku sebagai manajer ibunya dan sekarang wanita ini tidak mau memperlihatkan buku tabungannya tapi dia punya sponsor. Jawaban temannya adalah tidak usah diloloskan. Mendengar itu sih saya senang juga karena tidak perlu ke AS.

Akhirnya pewawancara saya kembali bertanya tentang sponsor, membolak-balik paspor dan sekarang termasuk paspor lama yang ada student visa Malaysia. Pertanyaan yang muncul adalah, "Kamu kuliah apa di Malaysia?", dan yang sangat menjebak adalah "Which one is better, Indonesia or Malaysia?"

Spontan saya menjawab "Of course Indonesia, can't u see it? People are nicer here." Karena memang itu yang saya rasakan, jadi hal itu terpancar dalam raut muka saya. Mas Latin itu langsung tertawa dan mengangguk dan saat itulah saya tahu saya berhasil meyakinkan dia. Akhirnya anggota terakhir diwawancara.

Nah, lagi-lagi dari berbagai pertanyaan pada orang tersebut akhirnya saya yang menjawab seperti pada 3 anggota rombongan lainnya karena ternyata mereka tidak membaca semua data yang diberikan oleh ketua rombongan. Jadi si Mas Latin malah bertanya masalah rombongan hanya pada saya dan terakhir dia senyum dan bilang selamat liburan sambil menyerahkan si kertas putih.

Keluar dari kedutaan ternyata saya mendapat informasi tidak semua anggota rombongan lolos, padahal mereka sudah membawa deposito pribadi dan orang tua yang jumlahnya pasti jauh di atas angka Rp 300 juta. Dari berbagai pertanyaan dan jawaban yang saya dengar saat menunggu giliran ada beberapa hal yang membuat seseorang gagal.

Pertama yaitu ragu dan tidak jelas dengan tujuannya sendiri. Contohnya ada seseorang yang diterima kuliah di sana namun mengambil jurusan yang berbeda dengan jurusan yang dia ambil di S1. Awalnya reaksi pewawancara sangat positif namun akhirnya dia gagal di pertanyaan apa alasan dia mengambil jurusan yang berbeda. Seingat saya dia mengatakan pindah jurusan karena suka dan ingin mencoba kuliah di jurusan baru tersebut.

Kedua adalah pewawancara tidak yakin bahwa kita akan kembali ke Indonesia. Saya lihat ada yang tidak lolos karena memberi kesan bahwa dia terlalu cinta AS atau negara lain atau memberi kesan bahwa dia tidak suka negaranya sendiri.

Pertanyaan yang saya dapat adalah, "Kenapa kamu tetap mau bekerja di Indonesia sedangkan kamu akan berhasil di Amerika?" Jawaban saya adalah, "Karena saya mau berhasil di sini, dan suatu saat menjual produk saya ke Amerika." Jawaban yang berhasil karena pewawancara saya langsung tersenyum.

Ada juga dosen salah satu universitas negeri yang lama sekali baru bisa meyakinkan pewawancaranya bahwa setelah lulus nanti dia harus kembali ke Indonesia, karena beasiswanya dari pemerintah Indonesia.

Ketiga adalah terlalu banyak bicara, memberikan jawaban yang bertele-tele apalagi mengada-ada. Para pewawancara adalah orang-orang yang sangat terlatih membaca raut muka dan nada bicara seseorang. Di beberapa orang saya lihat malah jawaban yang tidak perlu itu yang membuatnya gagal.

Keempat adalah bersikap baik dan normal, tidak sombong dan jadi diri sendiri. Mau Anda pakai tas Hermes kalau jawaban Anda menyiratkan sikap sombong, selamat kertas merah akan Anda dapatkan. Kebetulan saat saya menunggu wawancara ada yang begitu.

Kata orang, sesuatu yang berhubungan dengan Islam akan dicurigai, menurut saya sih tidak. Jawaban kita dan sikap kita lah yang menentukan. Itu terbukti mulai dari pengurusan visa sampai pengalaman 2 kali ke AS apalagi ketika jalan sendirian, saya selalu disapa ramah bahkan oleh cowok-cowok yang dalam pikiran saya tidak akan menyapa cewek berjilbab.

Namun selalu saja ada yang menyapa, "Hi, how are you, nice day." Bahkan menolong dengan sukarela memberikan kartu TAP-nya ketika saya mencoba naik transportasi umum di Beverly Hills. Yang penting senyum dan bersikap baik, malah ada yang memberi uang receh karena uang receh saya kurang. Transportasi umum di sana jarang yang menyediakan uang kembalian jadi harus sedia uang pas, kecuali transportasi khusus wisata.

Dari pengalaman saya pribadi dan pengalaman orang-orang yang saya bantu pengurusan visanya, sebenarnya yang terpenting adalah perhatikan pertanyaan. Santai saja namun harus mempersiapkan jawaban yang jujur dan bisa meyakinkan petugas wawancara tersebut.

Sumber berita DetikCom

Thursday, August 7, 2014

Cerita Mantan Paspampers Ketika Mengawal Presiden RI

Cerita Mantan Paspampers Ketika Mengawal Presiden RI

Mengawal dan memberikan jaminan keselamatan bagi presiden dan wakil presiden adalah tugas utama bagi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Untuk menjamin keselamatan itu, Paspampres pun kerap membuat standar keamanan sangat ketat di sekeliling presiden atau wakil presiden yang masuk kategori very very important person (VVIP).

Tak heran jika Paspampres kemudian diibaratkan sebagai perisai hidup simbol negara. Untuk itu, Paspampres mempersiapkan segala prosedur pengamanan terhadap VVIP yang dilakukan dalam jarak dekat, pengamanan perjalanan, keamanan makanan dan medis, hingga penyelamatan VVIP dalam kondisi darurat.

Mantan Komandan Paspampres era Presiden Megawati Soekarnoputri, Letnan Jenderal (Purn) Nono Sampono, bercerita betapa repotnya melakukan pengamanan bagi orang nomor satu di negeri ini. Pasalnya, Nono mengungkapkan, keselamatan presiden dan wakil presiden bukan hanya tanggung jawab dari TNI, melainan juga menyangkut prestise sebuah negara di mata dunia. "Kalau ada apa-apa, Panglima TNI yang akan digantung karena ini menyangkut nama negara," ujar Nono saat dihubungi, Kamis (7/8/2014).

Dalam sebuah pengamanan normal, lanjut Nono, Paspampres biasa menerapkan pola pengamanan tiga ring. Ring pertama adalah pengamanan yang paling dekat dengan VVIP. Ring kedua dan ketiga berada di lapis luar sekitar VVIP, yang biasanya dijaga oleh TNI dan Polri.

Setiap presiden dan wakil presiden mendapat pengawalan dari sekitar 300-400 personel dengan jam kerja bergiliran. Menurut Nono, jumlah pengawalan yang melekat ini bisa berubah-ubah setiap waktunya bergantung pada kebutuhan dan tingkat ancaman yang ada. Namun, dia menegaskan, untuk beberapa acara seperti upacara 17 Agustus, peringatan HUT TNI, atau upacara menerima tamu kehormatan, sudah ada standar yang tak bisa diubah oleh siapa pun meski presiden berganti.

Meski demikian, Nono menyadari setiap presiden memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Pada zaman Presiden Soeharto, misalnya, Paspampres diberdayakan secara maksimal. Bahkan, pengamanan presiden melibatkan satuan Koramil dan Kodim wilayah.
"Lalat pun nggak bisa masuk Istana kalau zaman Pak Harto," seloroh Nono.

Menyesuaikan dengan kemauan kepala negara
Semenjak zaman reformasi bergulir, Istana menjadi lebih terbuka. Pada masa Presiden Megawati, Nono menuturkan, pihaknya kerap dibuat pusing dengan keinginan Megawati yang spontan ingin makan nasi goreng di pinggir jalan hingga blusukan ke pasar-pasar tradisional."Menghadapi keinginan presiden itu, kita harus selalu siap menyesuaikan," ujar Nono.

Misalnya, Megawati tidak suka pengamanan berlebihan saat melakukan tinjauan ke pasar. Dia juga sering bersalaman dengan masyarakat dari dalam mobil. "Kalau sudah begitu, kita melakukan penebalan pengawalan di sekitarnya. Pokoknya, Paspampres terbiasa menyesuaikan setiap gaya presiden," katanya.
Oleh karena itu, Nono mengaku tak terlalu khawatir akan keinginan Jokowi untuk tak mau dikawal secara berlebihan. Menurut dia, Paspampres pasti memiliki cara dalam menjamin keselamatan presiden dan wakilnya.

"Hanya semakin tidak mau dikawal, semakin ekstra kerja keras Paspampres. Konsekuensinya memang begitu. Maka dari itu, pasti ada pembicaraan antara Komandan Paspampres, Sesmil, dengan presiden dan wapres terpilih soal pengamanan," ungkap Nono.

Dia pun meminta apabila nantinya memang benar-benar diberikan tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini, Jokowi juga bisa memahami tugas Paspampres. Jokowi harus menyadari akan risiko ancaman keselamatan terhadapnya yang semakin meningkat begitu menjadi presiden.

Sumber berita Kompas.com

Tuesday, August 5, 2014

Cerita Sedih Dahsyatnya Akibat Ledakan Bom Hiroshima

Cerita Sedih Dahsyatnya Akibat Ledakan Bom Hiroshima
kidnesia.com
Masih melekat dalam ingatan Elzo Nomura betapa dahsyatnya ledakan bom Hiroshima. Saat itu, dia berada di basement dalam sebuah gedung yang jaraknya 170 meter dari tempat pusat ledakan bom. Suara gelegar bom langsung diikuti keheningan sunyi karena sebagian besar penduduk meninggal dunia. Tepatnya 140 ribu jiwa.

Nomura masih bisa hidup hingga usia 80 tahun. Namun para korban selamat lain tak demikian. Banyak cerita pilu yang masih mereka dapatkan, meski lolos dari maut saat pengeboman.

Para korban selamat itu disebut dengan julukan hibakusha, yang berarti 'orang yang terkena efek ledakan'. Jumlahnya cukup banyak. Rata-rata mereka terkena radiasi nuklir yang tak terhindarkan.

Hidup mereka cukup menderita. Sebab, tak sedikit yang mengalami cacat permanen dengan luka di tubuh yang tak bisa hilang. Sebagian korban lainnya terkena kanker. Ini tentu saja mempengaruhi kehidupan sosial mereka. Ada yang tak bisa lagi mendapat kerja, hingga urung menikah.

Salah satu korban selamat adalah warga Korea Selatan bernama Jongkeun Lee. Dia kala itu berada di Hiroshima dan masih berusia 17 tahun.

"Awalnya, semua berwarna kuning, lalu tiba-tiba berubah hitam, gelap," ucapnya seperti dikutip dari Global Post tahun lalu.

Dalam kondisi setengah telanjang, Lee berjalan di kegelapan tak lama setelah pengeboman berlangsung. Waktu itu, yang dia lihat hanya jasad-jasad orang terkena efek ledakan. Khusus Lee, dia menderita luka bakar di bagian wajah dan leher.

"Saya ingin bilang ke ibu: tolong bunuh saya saja," ujar Lee saking frustrasinya dengan luka-luka tersebut.

Kala itu, memang ada sekitar 80 ribu warga Korea Selatan tinggal di Hiroshima. Dikabarkan, 20 ribu di antaranya menjadi korban ledakan.

Sumber berita DetikNews

Saturday, August 2, 2014

Mengadu Nasib ke Jakarta, Jumiah Berbekal Ijazah SD

Mengadu Nasib ke Jakarta, Jumiah Berbekal Ijazah SD

Sebagai jantung Ibukota, DKI Jakarta kerap menjadi sasaran pendatang baru. Salah satunya, Jumiah (19) prempuan asal Tegal ini nekat ke Ibukota untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.

Bermodalkan Ijazah SD, perempuan ini tampak kebingungan usai turun dari bus. Berkali-kali ia melihat telepon genggamnya dan berharap jemputan dari saudaranya.

"Ini lagi nunggu Saudara, katanya mau jemput di sini tapi coba telepon nggak diangkat-angkat," ujar Jumiah yang tetap siaga menjaga barang bawaannya.

Jumiah baru pertama kali datang ke Jakarta. Ia mengaku sudah dijamin oleh saudaranya yang memiliki usaha warung nasi.

"Pingin ikut mbokku kerja di Kota. Kebetulan mbok punya warung nasi di sini," imbuhnya.

Ia menganggap kedatangannya ke Jakarta tidak akan menyusahkan pemerintah setempat. Ia beralasan malu jika menjadi pengangguran di kampung sehingga menyusahkan orangtuanya.

"Ora nyusahin lah toh aku ada yang nampung kerja, ndak nganggur gitu. Daripada di kampung ndak ada peluang kerja," ungkapnya.

Sumber berita DetikNews