Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Saturday, March 15, 2014

Candi Ratu Baka : Klaten, Jawa Tengah Indonesia

Candi Ratu Baka : Klaten, Jawa Tengah Indonesia
wikimedia commons

Situs Ratu Baka (Bahasa Jawa: Candhi Ratu Baka) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25 ha.
Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs pemukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini.
Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (Bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan.
Secara administratif, situs ini berada di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200 m di atas permukaan laut.
Situs ini dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.

 Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Bukit ini sendiri merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu, yang membentang dari selatan Yogyakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton.
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Baka. Dalam prasasti ini menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746-784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara ("wihara di bukit yang bebas dari bahaya"). Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha. Namun demikian ditemukan pula unsur–unsur agama Hindu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.
Tampaknya, kompleks ini kemudian diubah menjadi keraton dilengkapi benteng pertahanan bagi raja bawahan (vassal) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Menurut prasasti Siwagrha tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra. Bangunan di atas bukit ini dijadikan kubu pertahanan dalam pertempuran perebutan kekuasaan di kemudian hari.
Di dalam kompleks ini terdapat bekas gapura, ruang Paseban, kolam, Pendopo, Pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi.


Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.
Berbeda pula dengan keraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai, situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Ini membuat kompleks bangunan ini relatif lebih sulit dibangun dari sudut pengadaan tenaga kerja dan bahan bangunan. Terkecuali tentu apabila bahan bangunan utamanya, yaitu batu, diambil dari wilayah bukit ini sendiri. Ini tentunya mensyaratkan terlatihnya para pekerja di dalam mengolah bukit batu menjadi bongkahan yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan.
Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini; sisanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksinya.
Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan.
Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut "tempat kremasi". Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama "tempat kremasi" menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut. Sangat boleh jadi perlu dipertimbangkan untuk menyelidiki tempat ini sebagai semacam altar atau tempat sesajen.
 
Kota-kota terdekat ke Candi Ratu Boko, adalah Yogyakarta atau Semarang, dan Solo.  Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines dan sejumlah maskapai penerbangan domestik terbang ke kota-kota ini dari Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. AirAsia merupakan maskapai internasional pertama yang terbang langsung dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta an Solo. Dari Yogyakarta dan Solo, anda dapat menyewa mobil untuk pergi ke Klaten atau bis reguler antar kota dalam propinsi.

Sumber: wikipedia.org

Candi Prambanan: Jawa Tengah, Indonesia

Candi Prambanan: Jawa Tengah, Indonesia
wikimedia commons

Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.
Kompleks candi ini terletak di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten, [1] kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.[2] Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten.
Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.[3] Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.
Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari istilah teologi Hindu Para Brahman yang bermakna "Brahman Agung" yaitu Brahman atau realitas abadi tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan, yang kerap disamakan dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu. Pendapat lain menganggap Para Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama "Prambanan" berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat.
Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa Sansekerta; Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856 Masehi). Trimurti dimuliakan dalam kompleks candi ini dengan tiga candi utamanya memuliakan Brahma, Siwa, dan Wisnu. Akan tetapi Siwa Mahadewa yang menempati ruang utama di candi Siwa adalah dewa yang paling dimuliakan dalam kompleks candi ini.

Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda. Candi ini menarik perhatian dunia ketika pada masa pendudukan Britania atas Jawa. Ketika itu Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, menemukan candi ini. Meskipun Sir Thomas kemudian memerintahkan penyelidikan lebih lanjut, reruntuhan candi ini tetap terlantar hingga berpuluh-puluh tahun. Penggalian tak serius dilakukan sepanjang 1880-an yang sayangnya malah menyuburkan praktek penjarahan ukiran dan batu candi. Kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa saat kemudian Isaäc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Arca-arca dan relief candi diambil oleh warga Belanda dan dijadikan hiasan taman, sementara warga pribumi menggunakan batu candi untuk bahan bangunan dan pondasi rumah.

Pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:
  1. 3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
  2. 3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
  3. 2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
  4. 4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
  5. 4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
  6. 224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68
Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan. (id.wikimedia.org).

Akses menuju Candi prambanan, dari jogja bisa menggunakan Bus way dengan tarif Rp.3000, langsung turun halte di lokasi candi Prambanan. jika naik angkutan pribadi dari jogja ke timur terus, arah ke kota klaten, perjalanan dari jogja sekita 45 menit, candi ini terletak di utara jalan. selamat jalan menikmati wisata candi Prambanan.
 

Thursday, March 13, 2014

Prambanan Temple, Central Java Indonesia

 Prambanan Temple, Central Java Indonesia
 
wikimedia commons
Candi Prambanan or Candi Rara Jonggrang is a 9th-century Hindu temple compound in Central Java, Indonesia, dedicated to the Trimurti, the expression of God as the Creator (Brahma), the Preserver (Vishnu) and the Destroyer (Shiva). The temple compound is located approximately 17 kilometres (11 mi) northeast of the city of Yogyakarta on the boundary between Central Java and Yogyakarta provinces.
The temple compound, a UNESCO World Heritage Site, is the largest Hindu temple site in Indonesia, and one of the biggest in Southeast Asia. It is characterized by its tall and pointed architecture, typical of Hindu temple architecture, and by the towering 47-metre-high (154 ft) central building inside a large complex of individual temples. Prambanan attracts many visitors from across the world.

The present name of the temple, Prambanan', was derived from the name of Prambanan village where the temple stood, this name probably being the corrupted Javanese pronunciation of "Para Brahman" ("The Supreme Brahman"). It is also possible Prambanan comes from Javanese root '(e)mban' which means carries a duty, reflecting gods role in the world, or the villagers duty in relation to the temple. Comparable with parahyangan (western part of Java island), comes from the root hyang, means god, or (e)yang, means ancestor in Javanese.

Prambanan is the largest Hindu temple of ancient Java, and the construction of this royal temple was probably started by Rakai Pikatan as the Hindu Sanjaya Dynasty's answer to the Buddhist Sailendra Dynasty's Borobudur and Sewu temples nearby. Historians suggest that the construction of Prambanan probably was meant to mark the return of the Hindu Sanjaya Dynasty to power in Central Java after almost a century of Buddhist Sailendra Dynasty domination. Nevertheless, the construction of this massive Hindu temple signifies that the Medang court had shifted the focus of its patronage from Mahayana Buddhism to Shivaist Hinduism.
A temple was first built at the site around 850 CE by Rakai Pikatan and expanded extensively by King Lokapala and Balitung Maha Sambu the Sanjaya king of the Mataram Kingdom. According to the Shivagrha inscription of 856 CE, the temple was built to honor Lord Shiva and its original name was Shiva-grha (the House of Shiva) or Shiva-laya (the Realm of Shiva). According to Shivagrha inscription, a public water project to change the course of a river near Shivagrha Temple was conducted during the construction of the temple. The river, identified as the Opak River, now runs north to south on the western side of the Prambanan temple compound. Historians suggest that originally the river was curved further to east and was deemed too near to the main temple. The project was done by cutting the river along a north to south axis along the outer wall of the Shivagrha Temple compound. The former river course was filled in and made level to create a wider space for the temple expansion, the space for rows of pervara (complementary) temples.
Some archaeologists propose that the statue of Shiva in the garbhagriha (central chamber) of the main temple was modelled after King Balitung, serving as a depiction of his deified self after death.
The temple compound was expanded by successive Mataram kings such as Daksa and Tulodong with the addition of hundreds of perwara temples around the chief temple. Prambanan served as the royal temple of the Kingdom of Mataram, with most of the state's religious ceremonies and sacrifices being conducted there. At the height of kingdom, scholars estimate that hundreds of brahmins with their disciples lived within the outer wall of the temple compound. The urban center and the court of Mataram were located nearby, somewhere in the Prambanan Plain.


wikimedia commons
Originally there were a total of 240 temples standing in Prambanan. The Prambanan Temple Compound consist of:
  1. 3 Trimurti temples: three main temples dedicated to Shiva, Visnu, and Brahma
  2. 3 Vahana temples: three temples in front of Trimurti temples dedicated to the vahana of each gods; Nandi, Garuda, and Hamsa
  3. 2 Apit temples: two temples located between the rows of Trimurti and Vahana temples on north and south side
  4. 4 Kelir temples: four small shrines located on 4 cardinal directions right beyond the 4 main gates of inner zone
  5. 4 Patok temples: four small shrines located on 4 corners of inner zone
  6. 224 Pervara temples: hundreds of temples arranged in 4 concentric square rows; numbers of temples from inner row to outer row are: 44, 52, 60, and 68
The Prambanan compound also known as Rara Jonggrang complex, named after the popular legend of Rara Jonggrang. There were once 240 temples stood in this Shivaite temple complex, either big or small. Today, all of 8 main temples and 8 small shrines in inner zone are reconstructed, but only 2 out of the original 224 pervara temples are renovated. The majority of them have deteriorated; what is left are only scattered stones. The Prambanan temple complex consists of three zones; first the outer zone, second the middle zone that contains hundreds of small temples, and third the holiest inner zone that contains eight main temples and eight small shrines.
The Hindu temple complex at Prambanan is based on a square plan that contains a total of three zone yards, each of which is surrounded by four walls pierced by four large gates. The outer zone is a large space marked by a rectangular wall. The outermost walled perimieter, which originally measured about 390 metres per side, was oriented in the northeast, southwest direction. However, except for its southern gate, not much else of this enclosure has survived down to the present. The original function is unknown; possibilities are that it was a sacred park, or priests' boarding school (ashram). The supporting buildings for the temple complex were made from organic material; as a consequence no remains occur.

Get There. The closest cities to  Prambanan, are either Yogyakarta or Semarang. Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines and a number of domestic airlines fly to these cities from Jakarta and other large cities in Indonesia. AirAsia is the first international airline that flies direct from Kuala Lumpur to Yogyakarta. From Yogyakarta, you can rent a car to go to Klaten.
Sumber wikipedia.org

Wednesday, March 12, 2014

Dieng Plateau: Wonosobo Central Java, Indonesia

Dieng Plateau: Wonosobo Central Java, Indonesia
wikimedia commons

The Dieng Plateau is an upland volcanic plain in Central Java, famous for its scenery and ancient Hindu temples. The Dieng Plateau is a caldera complex formed by the eruption of ancient Mountain Prau. The caldera was once filled up water and then dried up, but volcanic activity continues to this day, with sulphuric fumes and poisonous lakes. Located at an altitude of 2000m, it's also much cooler than the surrounding lowlands. 

The ancient Javanese Hindus built up temples and made Dieng Plateau as a sacred place. The word Dieng word was formed from Sanskrit words Di (Abode) and Hyang (Gods), so Dieng means Abode of the Gods. The Javanese Hindus built hundreds of temples in this place, but only eight are left. The temples were built from 8th century to 13th century by Sanjaya Dynasty and resemble those of Prambanan, but on a smaller scale. The local people named the temples based on the characters in the ancient Javanese Hindu legend which has similarity to famous Hindu story Mahabharata and Ramayana.  

The only way to reach the Dieng Plateau is by land. The main town on the plateau, Wonosobo, can be reached from Yogyakarta by stopping in Magelang. Yogayakarta to Magelang cost Rupiah 15,000. In Magelang, take another bus to Wonosobo. Magelang to Wonosobo takes 2 hours journey cost only Rp 14,000. Wonosobo can also be reached from Purwokerto by bus. There are frequent train schedule from Jakarta to Purwokerto. There are also night buses from Jakarta to Purwokerto. There is only one bus direct to Wonosobo cost Rp 75,000.From Semarang and Yogyakarta you can go by tourist car/rent car with 7 seaters vehicle.

Sight seeing here includes a hot spring, a multi-colored lake (a misnomer), candis and some impressive top-down scenery from the peaks. The different sights all require a small entrance fee which is collected before entry. The fresh air, beautiful greenery and quiet makes the plateau an enjoyable place to stay around.
Dieng is an active volcanic region and can be regarded as a giant volcano. Plains formed from volcanic crater that has died. Crater shape can be seen obviously from the plain with mountains cluster surrounding. Yet despite this volcano has been dead for centuries, some volcanic craters are still active until now. Among these is Kawah Sikidang (Sikidang Crater), which is always on the move and jumping like a "kidang" or deer. The uniqueness of the formation process produced an exotic landscape. Telaga Warna (Colorful Lake) that reflects the color green, blue and purple and enchanting the beauty of sunrise from the summit of Gunung Sikunir (Mount Sikunir) is the places that should not be passed just like that. 

Motorbike trips to a bunch of the geothermal sites and temples can be arranged for about $6/person. Sunrise is beautiful from up the mountain.
Light trekking. Dieng plateau with hills, local plantation, villages also offers travelers a chance to explore it by foot. Light trekking can be arranged from the nearest local accommodation or Homestay. Sikunir and Gunung Perahu are two popular spots for trekking site. 
Source: wikitravel.org





Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo Jawa Tengah

Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo Jawa Tengah
Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor, dan banjir.
Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda ("di hyang") karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.

 Berikut beberapa objek wisata di Dieng.
  • Telaga: Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Keunikan lain adalah yang membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Telaga Merdada, adalah merupakan yang terbesar di antara telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Airnya yang tidak pernah surut dijadikan sebagai pengairan untuk ladang pertanian. Bahkan Telaga ini juga digunakan para pemancing untuk menyalurkan hobi atau juga wisatawan yang sekadar berkeliling dengan perahu kecil yang disewakan oleh penduduk setempat.
  • Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.
  • Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.
  • Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.
  • Sumur Jalatunda.
  • Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
  • Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.
  • Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).
 Sumber: id.wikipedia.org


Nasi Liwet: Kuliner Khas Solo, Jawa Tengah

Nasi Liwet: Kuliner  Khas Solo, Jawa Tengah
wikimedia commons

Nasi liwet adalah makanan khas kota Solo. Nasi liwet adalah nasi gurih (dimasak dengan kelapa) mirip nasi uduk, yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam (daging ayam dipotong kecil-kecil) dan areh (semacam bubur gurih dari kelapa).
Penduduk kota Solo biasa memakan nasi liwet setiap waktu mulai dari untuk sarapan, sampai makan malam. Nasi liwet biasa dijajakan keliling dengan bakul bambu oleh ibu-ibu yang menggendongnya tiap pagi atau dijual di warung lesehan (tanpa kursi). Tempat paling terkenal untuk penjualan nasi liwet (warung lesehan) adalah di daerah Keprabon yang hanya berjualan pada malam hari. (wikipedia)

Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.

Meski nasi liwet Wongso Lemu tak berbeda dari nasi liwet lainnya, diakui harga nasi liwet di sini lebih tinggi yaitu Rp 10.000 untuk nasi liwet biasa dan Rp 17.000 untuk nasi liwet komplit dengan ati ampela. Namun, ada keunikan yang dapat ditemui jika membeli nasi liwet Wongso Lemu, yakni penjual yang masih memakai baju tradisional kebaya dan juga pengamen tradisional yang terdiri dari ibu-ibu dengan make up, sanggul dan juga pakaian kebaya.

Meskipun nasi liwet Wongso Lemu sudah terkenal dan menjadi rujukan kuliner di Solo, pembeli nasi liwet tak selalu ramai. “Penjualan kami juga tak tentu, kadang ramai atau kadang sepi. Tapi saat libur panjang biasanya kami selalu ramai,” tutur Ati. Nasi liwet Wongso Lemu buka mulai dari pukul 16.00 WIB sampai 01.00 WIB dini hari.
Sumber: terasolo.com

Nasi liwet merupakan kuliner khas Solo yang terdiri dari nasi gurih ditemani oleh sayur labu siam, suwiran ayam, telur rebus, dan areh serta disajikan dengan dipincuk dengan daun pisang. Kuliner tradisional ini biasa dijajakan di pagi hari maupun di malam hari. Nasi liwet sangat mudah ditemui dan dicari di berbagai sudut kota Solo.
Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.
Nasi liwet merupakan kuliner khas Solo yang terdiri dari nasi gurih ditemani oleh sayur labu siam, suwiran ayam, telur rebus, dan areh serta disajikan dengan dipincuk dengan daun pisang. Kuliner tradisional ini biasa dijajakan di pagi hari maupun di malam hari. Nasi liwet sangat mudah ditemui dan dicari di berbagai sudut kota Solo. Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.<br /><br />See more at: http://terasolo.com/kuliner/nasi-liwet-solo.html#.dpuf
Nasi liwet merupakan kuliner khas Solo yang terdiri dari nasi gurih ditemani oleh sayur labu siam, suwiran ayam, telur rebus, dan areh serta disajikan dengan dipincuk dengan daun pisang. Kuliner tradisional ini biasa dijajakan di pagi hari maupun di malam hari. Nasi liwet sangat mudah ditemui dan dicari di berbagai sudut kota Solo.
Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.
Nasi liwet merupakan kuliner khas Solo yang terdiri dari nasi gurih ditemani oleh sayur labu siam, suwiran ayam, telur rebus, dan areh serta disajikan dengan dipincuk dengan daun pisang. Kuliner tradisional ini biasa dijajakan di pagi hari maupun di malam hari. Nasi liwet sangat mudah ditemui dan dicari di berbagai sudut kota Solo. Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.<br /><br />See more at: http://terasolo.com/kuliner/nasi-liwet-solo.html#.dpuf
Nasi liwet merupakan kuliner khas Solo yang terdiri dari nasi gurih ditemani oleh sayur labu siam, suwiran ayam, telur rebus, dan areh serta disajikan dengan dipincuk dengan daun pisang. Kuliner tradisional ini biasa dijajakan di pagi hari maupun di malam hari. Nasi liwet sangat mudah ditemui dan dicari di berbagai sudut kota Solo.
Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.
Nasi liwet merupakan kuliner khas Solo yang terdiri dari nasi gurih ditemani oleh sayur labu siam, suwiran ayam, telur rebus, dan areh serta disajikan dengan dipincuk dengan daun pisang. Kuliner tradisional ini biasa dijajakan di pagi hari maupun di malam hari. Nasi liwet sangat mudah ditemui dan dicari di berbagai sudut kota Solo. Salah satu rujukan nasi liwet khas Solo yang sudah melegenda adalah Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon. Ada banyak nama nasi liwet Wongso Lemu di daerah jalan ini. Namun, yang asli hanya tiga. “Di sini nasi liwet Wongso Lemu yang asli hanya tiga dan kami semua bersaudara. Masakannya kami olah bersama dan dibagi menjadi tiga,” ujar Ati Tri Wulandari cucu dari Bu Wongso Lemu. Nasi liwet Wongso Lemu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1950.<br /><br />See more at: http://terasolo.com/kuliner/nasi-liwet-solo.html#.dpuf

Monday, March 10, 2014

Candi Borobudur: Jawa Tengah, Indonesia

Candi Borobudur: Jawa Tengah, Indonesia
wikimedia commons

Candi dalam Bahasa Indonesia, adalah bangunan keagamaan purbakala; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba". Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Sumber:id.wikipedia.org

BOROBUDUR TEMPLE

BOROBUDUR TEMPLE 
 
wikimedia commons

The world's largest Buddhist temple which is one of the masterpieces among the Seven Wonders of the World is located in the Borobudur Village, Borobudur district, approximatelly ± 3 km from Mungkid city. Borobudur was built by King Samaratungga, one of the kings of Ancient Mataram Kingdom, from the descendant of Wangsa Syailendra. Based on the Kayumwungan inscription, an Indonesian named Hudaya Kandahjaya revealed that Borobudur is a place of worship which was completely built on May 26th, 824 almost a hundred years since they first started the construction. According to several sources the name of “Borobudur” means as a mountain with terraces (budhara), while others says that it means monastery located on the high ground.

Borobudur temple was designed as staircase consistsing of 10 levels. Before Borobudur was renovated, the height of the temple was 42 meters and 34.5 meters after the reconstruction because the lowest level functioned as a barrier after being renovated. The six lowest square and top three circle and one of the highest levels of Buddhist stupa is facing to the West. Each level represents the stages of human life. In accordance with Mahayana Buddhism teaching, every person who wants to reach the level as the Buddha must passed through every level of human life. Kamadhatu, the lowest part of Borobudur (basement) symbolizing human beings that are bound by lust. Whereas the other four levels above referred as Rupadhatu who symbolizes the ability of humanbeing to break free from his/her lust yet bound with manner and human form itself. On this terrace, the statue of Buddha is placed in an open space. Meanwhile, the other three levels above where the Buddhist stupas are laid in holes is called Arupadhatu, symbolizing humanbeing who has been freed from lust, appearance, and human form. The highest part is called Arupa symbolizes nirvana, where Buddha is residing. 
Sumber:central-java-tourism.com