Showing posts with label Rate. Show all posts
Showing posts with label Rate. Show all posts

Wednesday, February 19, 2014

NILAI TUKAR RUPIAH KEMBALI MENGUAT


NILAI TUKAR RUPIAH KEMBALI  MENGUAT

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat. Perlahan dolar meninggalkan level Rp 12.000 dalam waktu yang cukup lama.


Mengutip data Reuters, Kamis (20/2/2014), dolar AS diperdagangkan di level Rp 11.770 pagi ini. Namun dolar sempat berada di Rp 11.690 satu jam sebelumnya. 


Bank Indonesia (BI) mematok kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) hari ini di level Rp 11.772 per dolar AS.


JISDOR Jadi Acuan di Singapura


ABS Benchmarks Administration Co Pte. Ltd. (ABS Co) dan The Singapore Foreign Exchange Markets Committee (SFEMC) mengumumkan akan menghentikan penerbitan benchmark tingkat harga spot USD/IDR, yang saat ini dikenal dengan "IDRVWAP".


Selanjutnya SFEMC merekomendasikan pada peserta pasar agar dapat menggunakan IDR JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate), yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) dan dipublikasikan melalui website Bank Indonesia, sebagai referensi sejak 28 Maret 2014. 


SFEMC juga merekomendasikan peserta pasar yang memiliki kontrak dengan referensi IDR VWAP sebelum 28 Maret 2014 dan akan jatuh tempo pada tanggal 28 Maret 2014 atau sesudahnya agar mengalihkan kontraknya dengan mengacu pada IDR JISDOR. Dalam media release, The Association of Banks in Singapore (ABS) dan SFEMC menyatakan akan senantiasa bekerjasama untuk meningkatkan robustness, transparansi dan efisiensi benchmark pasar keuangan di Singapura.


JISDOR merupakan harga spot USD/IDR, yang disusun berdasarkan kurs transaksi valuta asing terhadap rupiah antar bank di pasar valas domestik. JISDOR dimaksudkan untuk memberikan referensi harga pasar yang representatif untuk transaksi spot USD/IDR pasar domestik. 


BI sendiri menyambut baik penggunaan JISDOR sebagai referensi harga USD/IDR di pasar keuangan Singapura. Hal ini menunjukkan pengakuan terhadap kredibilitas JISDOR sebagai referensi harga yang terbentuk dari transaksi USD/IDR di pasar valas domestik. 


"Dengan demikian, transaksi di pasar keuangan internasional yang terkait dengan USD/IDR dapat sejalan dengan perkembangan harga USD/IDR di pasar valas dometik. Selain itu, penggunaan JISDOR sebagai referensi juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar keuangan internasional guna mendorong proses pendalaman pasar keuangan domestik," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara.

Monday, February 17, 2014

RUPIAH SEMAKIN PERKASA



RUPIAH SEMAKIN PERKASA




Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus bergerak di bawah level Rp 12.000/US$ sejak dua hari terakhir. Bahkan dolar AS sempat diperdagangkan di Rp 11.565 pagi tadi.


Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan penguatan nilai tukar merupakan akibat dari paket kebijakan pemerintah yang melakukan pengetatan fiskal. Ini terlihat pada neraca perdagangan yang surplus di triwulan terakhir 2013.



"Kita bersyukur rupiah menguat, kita melihat neraca perdagangan kembali surplus. defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) terus menyempit. Ini berarti paket kebijakan kita berjalan baik," kata Hatta di kantornya, Jakarta, Senin (17/2/2014)



Selain itu, kondisi penguatan rupiah juga didorong oleh kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI). Seperti dalam menaikkan suku bunga acuan menjadi 7,5% di akhir 2013 lalu demi meredam penyaluran kredit.



"Baik yang oleh pemerintah maupun BI, kita menjaga agar CAD tidak melebar. Di sisi lain kita menjaga capital account yang berkaitan dengan iklim investasi dan pasar modal juga baik," ujarnya.



Akibat dari kebijakan pemerintah, juga membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lambat dibandingkan dengan tahun lalu. Hatta menilai pertumbuhan memang penting. Namun saat ini fokus masih dalam rangka stabilitas.



"Saya kira perlu pertumbuhan tapi stabilitas juga penting. Oleh sebab itu kita tidak harus mendorong pertumbuhan tinggi, tidak didorong suplai cuma dari demand side. Jangan sampai suply terbatas membuat defisit kita menganga lagi. Mendorong pertumbuhan pada angka relistis 5,8-6%," papar Hatta.