Showing posts with label mie instan. Show all posts
Showing posts with label mie instan. Show all posts

Sunday, April 19, 2015

Benarkah Saat Memasak Mie Instan Harus Membuang Air Rebusannya

 Benarkah Saat Memasak Mie Instan Harus Membuang Air Rebusannya
 
forum.kompas.com

Kekhawatiran akan kandungan "lilin" dalam mi instan membuat banyak orang selalu membuang air rebusan mi instan sebelum dikonsumsi. Benarkah mi instan mengandung lilin?

Menurut ahli nutrisi Susan SPT, Msc, tidak benar jika dikatakan mi instan mengandung lilin. "Karena proses penggorengan dalam pembuatannya, maka kalau kita merebus mi airnya jadi keruh. Orang bilang itu karena lilin, padahal itu karena minyak dan karbohidrat, tepung-tepungnya keluar," ujarnya.

Susan mengatakan, mi instan dibuat dengan cara digoreng sampai kering sampai kadar airnya tidak ada lagi. Dengan demikian mi instan menjadi lebih tahan lama.

Karena proses penggorengan tersebut, mi instan mengandung kadar lemak cukup tinggi. Sehingga jika kita sering mengasup mi instan, apalagi ditambah nasi, akibatnya bisa kegemukan.

"Sebenarnya kalau kita membuang air rebusan, itu berarti kita membuang sebagian minyak yang ada di dalam mi instan. Saat mi direbus, maka minyak dalam mi akan keluar," kata Head of Nutrifood Research Center ini.

Hal lain yang harus diwaspadai dari mi instan adalah kandungan garamnya yang tinggi. Padahal, kita dianjurkan mengonsumsi garam tak lebih dari satu sendok teh perhari.

"Kandungan sodium mi instan rata-2 mengandung 50-60 persen kebutuhan sodium perhari," katanya.


Sumber berita KOMPAS. com

Tuesday, September 2, 2014

Pendapat Beberapa Pakar Mengenai Keamanan Mengkonsumsi Mie Instan

Pendapat Beberapa Pakar Mengenai Keamanan Mengkonsumsi Mie Instan
fitness.makeupandbeauty.com
Sebagian orang menganggap mi instan kurang menyehatkan karena mengandung MSG (monosodium glutamat) dan garam yang berlebih. Sebenarnya apa saja sih kandungan mi instan yang membuatnya tidak sehat untuk dikonsumsi berlebihan?

Beberapa orang bahkan akan membuang air rebusan mi instan lalu menggantinya dengan air yang baru sebagai kuah. Ada juga yang menggunakan air rebusan mi sebagai kuah karena rasanya lebih gurih. Bagaimana pendapat para pakar?

Staf pengajar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI itu mengaku tak tahu alasan pasti mengapa sebagian orang memilih membuang air rebusan tersebut.

Pendapat lain disampaikan oleh dr Nany Leksokumoro, MS, SpGK, dokter gizi klinis dari Omni Hospital.

"Itu memang salah satu cara untuk mengeliminasi lemak yang terkandung dalam air rebusan. Memang gurihnya hilang, tapi ini kembali kepada kebutuhan masing-masing," terangnya saat dihubungi secara terpisah.

dr Nany menambahkan apakah perlu membuang air rebusan atau tidak, pilihan diserahkan kepada masing-masing individu. "Dibuang boleh, mau dimakan juga nggak apa-apa," imbuhnya.

"Yang jelas ada karbohidrat jenis tepung sebagai bahan dasar mi. Lalu ada telurnya. Namun isi (komposisi bahan) dari masing-masing pabrik kan beda-beda ya, itu yang saya tidak tahu pasti," ujar dr Nany Leksokumoro, MS, SpGK, dari Omni Hospital, soal kandungan mi instan secara umum, ketika dihubungi detikHealth, Rabu (3/9/2014).

Prof dr Endang L Achadi, MPH, Dr.PH. meyakini bila semua produk makanan yang beredar di Indonesia pastinya telah mengantongi izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

"Itu harusnya kan sudah memenuhi standar jadi aman dikonsumsi," tegasnya saat dihubungi secara terpisah.

"Mi instan itu kan hanya kalori. Satu bungkus mi instan itu kalorinya mencapai 500 kalori. Selain itu lebih banyak lemaknya dan unsur seratnya kurang," timpal Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Endang mengingatkan sebetulnya boleh-boleh saja mengonsumsi mi instan, asal jangan rutin setiap hari karena karbohidrat dan lemaknya tinggi.

"Ini harus dikombinasi dengan makanan segar," imbuhnya.

Yang pasti baik Prof Endang maupun dr Nany mengingatkan, bahan makanan yang baik sekalipun bila dikonsumsi secara tidak baik, misalkan secara berlebihan akan merugikan kesehatan seseorang. Hal ini juga berlaku untuk konsumsi mi instan dan makanan olahan lainnya.

Sumber berita DetikHealth

Thursday, August 14, 2014

Resiko Penyakit Sindrom Kardiometabolik Jika Konsumsi Mie Instan Terlalu Sering

 Resiko Penyakit Sindrom Kardiometabolik Jika Konsumsi Mie Instan Terlalu Sering
saber.ucv.ve
Semangkuk mi instan rebus dengan telur dan irisan cabai rawit memang godaan yang sulit ditolak. Tak heran jika mi instan termasuk dalam makanan siap saji yang paling banyak disukai. Namun, sebaiknya batasi konsumsinya.

Terlalu sering mengonsumsi mi intan, yakni sekitar 3 kali seminggu, akan meningkatkan risiko penyakit sindrom kardiometabolik. Kondisi ini bisa membuat seseorang berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat dan dimuat dalam Journal of Nutrition. Menurut ketua peneliti, Dr Hyun Joon Shin, kebiasaan mengonsumsi mi instan lebih berdampak buruk pada kaum wanita.

Penelitian yang dilakukan Shin difokuskan di Korea Selatan karena mi instan dan juga ramen merupakan favorit orang Asia. Korea Selatan sendiri merupakan negara dengan konsumsi mi instan tertinggi di dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir ditemui peningkatan jumlah masalah kesehatan, terutama penyakit jantung dan banyaknya orang dewasa yang kegemukan. Atas dasar inilah Shin melakukan penelitian untuk mengetahui kaitan antara konsumsi mi dan kesehatan.

Mi instan, seperti halnya makanan yang diproses lainnya, mengandung garam yang tinggi. Pola makan tinggi mineral seperti ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Penelitian lain juga dilakukan oleh Braden Kuo, ahli kesehatan pencernaan dari Massachusetts General Hospital di Boston. Ia menggunakan kamera berukuran sangat kecil untuk melihat apa yang terjadi pada organ pencernaan setelah seseorang makan mi ramen instan.

Kebanyakan mi ramen instan, menurut Kuo, mengandung zat kimia tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ), pengawet makanan yang merupakan produk biobutane, yang juga dipakai dalam industri minyak.

"Hal yang paling menarik dari percobaan ini adalah setelah satu atau dua jam, mi instan ramen tidak mudah dipecah oleh usus dibanding dengan mi ramen yang dibuat sendiri," katanya.

Sumber berita Kompas.com