Showing posts with label Pangeran Diponegoro. Show all posts
Showing posts with label Pangeran Diponegoro. Show all posts

Friday, February 6, 2015

Kisah JC.Baud Si Penyimpan Tongkat Pusaka Pangeran Diponegoro

Kisah JC.Baud Si Penyimpan Tongkat Pusaka Pangeran Diponegoro
news.detik.com
Bagaimana tongkat pusaka Diponegoro sampai ke Belanda dan kembali lagi ke Indonesia? Ternyata, keluarga Jean Chretien (JC) Baud dan keturunannya yang menyimpan tongkat ini 183 tahun.
JC Baud, adalah orang keturunan Swiss yang bekerja untuk Belanda, hingga menjadi Gubernur Jenderal Belanda di Jawa pada tahun 1833-1836.
JC Baud, kemudian diberi tongkat itu oleh Pangeran Notoprojo pada Juli 1834, saat melakukan inspeksi pertama di Jawa Tengah pada musim kemarau. Pangeran Notoprojo sendiri adalah cucu dari komandan perempuan pasukan Diponegoro, Nyi Ageng Serang. Tongkat itu berada di tangan Pangeran Notoprojo setelah penangkapan Diponegoro pada fase akhir Perang Jawa, kemungkinan pada 11 Agustus 1829.
Pangeran Notoprojo memberikan tongkat ini pada JC Baud, karena berusaha mengambil hati para penguasa kolonial yang baru di Jawa dengan mempersembahkan artefak ini. Notoprojo menjadi sekutu politik yang penting bagi Belanda setelah menyerahkan diri pada 24 Juni 1827. JC Baud membawa tongkat itu ke Belanda dan mewariskan pada keturunannya
"Pada 2012, ayah dari kakak beradik Erica Lucia Baud dan Michiel Baud meninggal dunia. Mereka ini keturunan JC Baud, cicit-cicitnya," jelas Nebojsa Djordevic sejarawan seni dari Serbia yang meneliti Diponegoro dari lukisan untuk thesisnya di UNS-Solo saat ditemui di Galeri Nasional, Jl Medan Merdeka Timur, Jumat ( 6/2/2015).
Sejak tahun 2012 mereka telah terus memelihara warisan kakek buyutnya itu hingga Agustus 2014, datanglah Harm Stevens dari Rijkmuseum kepada keluarga Baud untuk meneliti tentang tongkat Diponegoro.
"Erica dan Michiel sudah tahu tongkat ini punya Pangeran Diponegoro. Mereka lantas bertanya pada Stevens, apa yang harus mereka lakukan dengan ini. Steven menyarankan untuk mengembalikannya ke Indonesia," jelas Nebo, panggilan Nebojsa.
Dalam tongkat itu, menurut Nebo, terselip kertas yang keterangannya ditulis JC Baud sendiri, bunyinya demikian:
Deze staf, tjokro genaamd, heeft toebehoord aan Prins Diepo Negoro en is in juli 1834 door Pangrerang Noto Prodjo aan J.C Baud, Gouverneeur General van Ned.
De staf is afkomstig van de Sultans van Demak en werd door Diepo Negoro gedragen telk ens wanneer hij als pelgrim naar heilige plaatsen ging om zegen af te bidden op zijne indernemingen.
Tulisan itu kurang lebih menceritakan asal usul tongkat itu yang aslinya dimiliki Sultan Demak, kemudian ke tangan Diponegoro, ke Notoprojo hingga ke JC Baud, seperti yamg telah diceritakan di atas.
Pengembalian tongkat itu juga dibantu Rijkmuseum, Kedubes Belanda di Jakarta, serta Peter BR Carey, sejarawan yang sudah 40 tahun meneliti Diponegoro, hingga datang ke Indonesia pada Kamis ( 5/2/2015) kemarin.
"Kami berharap bahwa penyerahan tongkat ini menjadi momentum yang kecil namun penting secara simbolis dalam memasuki era baru yang diisi dengan saling menghormati, persahabatan dan persamaan. Dengan tulus kami berharap bahwa seperti itulah momen ini akan dikenang," demikian tulis Erica dan Michiel Baud dalam buku katalog tongkat ini " A Lost Pusaka Returned".

Sumber berita Detik.com

Kisah Makna Tongkat Kiai Tjokro Milik Pangeran Diponegoro

Kisah Makna Tongkat Kiai Tjokro Milik Pangeran Diponegoro
www.liburananak.com
Sebuah pameran mengenai Pangeran Diponegoro diselenggarakan di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat. Salah satu pusaka yang dipamerkan adalah Kyai Cokro. Tongkat panjang ini memiliki bentuk cakra di bagian atasnya.
"Tongkat ini sebenarnya dibuat sekitar abad 16 untuk Sultan Demak, dan bukan dibuat untuk khusus untuk Pangeran Diponegoro," kata Sejarahwan Peter Carey, yang telah melakukan penelitian panjang mengenai Pangeran Dipenogoro, kepada detikcom, Jumat (6/2/2015).
Peter menjelaskan, tongkat ini diberikan pada seseorang rakyat biasa kepada Pangeran Diponegoro pada sekitar tahun 1815, sekitar sepuluh tahun sebelum perang Jawa dimulai pada 1825. "Mungkin rakyat ini sudah melihat kalau Diponegoro akan menjadi pemimpin," katanya.
Tongkat ini kemudian dipakai Diponegoro saat melakukan peziarahan di berbagai wilayah di Jawa. "Tapi Cakra di ujung tongkat ini cukup tajam, jadi bisa juga digunakan untuk membela diri," katanya.
Tongkat ini kemudian bisa dirampas pada 1829, lalu setelah berpindah-pindah tangan akhirnya dibawa ke Belanda. "Tongkat ini kemudian dibawa ke Belanda," katanya.
Peter mengatakan, keturunan keluarga pemilik tongkat ini kemudian mencari tahu asal muasal tongkat tersebut. Malahan mereka pernah berkirim surat mengenai tongkat tersebut pada Peter. Setelah diteliti ternyata benda ini adalah tongkat Kyai Cokro milik Diponegoro.
"Sebab itulah tongkat ini bisa dipamerkan di sini," katanya
Tongkat Kiai Cakro milik Pangeran Diponegoro akhirnya kembali ke Indonesia pada Kamis ( 5/2) kemarin. 

Sebenarnya, apa makna tongkat ini bagi Pangeran Diponegoro?
"Tongkat ini selalu dibawa Pangeran Diponegoro setiap kali melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci untuk memohon agar segala kegiatannya diberkati," demikian tertulis dalam kertas yang terselip di ujung tongkat, yang diduga ditulis sendiri oleh JC Baud, Gubernur Jenderal Belanda yang bertugas 1833-1836 yang mendapatkan tongkat ini dari Pangeran Notoprojo Juli 1834.
Dalam buku katalog tongkat ini,"A Lost Pusaka Returned" , yang diterbitkan Rijks Museum, Goethe Institute Erasmus Huis yang dibagikan di pameran "Aku Diponegoro" di Galeri Nasional, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta, Jumat (6/2/2015),disebutkan bahwa tongkat itu jatuh ke tangan Pangeran Diponegoro sekitar 10 tahun sebelum pecahnya Perang Jawa, sekitar tahun 1815.
Diponegoro mendapatkan tongkat itu dari seorang warga biasa asal Jawa. Tongkat itu dinamakan Tjokro atau Cakra karena ujungnya bulat seperti bulan.
Simbol cakra sepertinya memiliki makna penting bagi Diponegoro, mengingat cakra adalah senjata Dewa Wisnu, yang inkarnasinya yang ke-7 sebagai penguasa dunia dengan menggenggam senjata cakra. Ini dikaitkan dengan mitologi Jawa dengan kedatangan Sang Ratu Adil atau erucakra.
Diponegoro memulai memakai gelar ini di awal Perang Jawa dan menganggap perjuangannya sebagai perang suci untuk mengembalikan tatanan moral ilahi demi terjaminnya kesejahteraan rakyat Jawa.
Panji pertempuran Diponegoro menggunakam simbol cakra dengan panah menyilang.
Kemudian, setelah Perang Jawa berakhir, tongkat itu jatuh ke tangan cucu komandan perempuan pasukan Diponegoro, Nyi Ageng Serang, yakni Pangeran Adipati Notoprojo. Waktunya kemungkinan 11 Agustus 1829, saat Diponegoro melakukan kampanye terakhir di wilayah Mataram. Dari Notoprojo inilah, tongkat ini sampai pada JC Baud.

Sumber berita Detik.com

Jubah Sabil Milik Pangeran Diponegoro Batal Dipamerkan

Jubah Sabil Milik Pangeran Diponegoro Batal Dipamerkan
sigmanews.co.id
Jubah Sabil milik Pangeran Diponegoro batal dipamerkan di pameran "Aku Diponegoro" di Galeri Nasional, Jakarta. Sejarawan yang telah meneliti Diponegoro selama 40 tahun, Peter Brian Ramsey Carey, mengungkapkan cerita di balik batalnya jubah itu dipamerkan. Seperti apa?
Jubah Pangeran Diponegoro kini disimpan di Museum Bakorwil II Magelang, Jawa Tengah. (Baca juga: Jubah Pangeran Diponegoro Batal Dipamerkan di Galeri Nasional)
"Karena ada syarat yang sebenarnya tidak bisa kita kabulkan. Sebab mereka (Pemda Magelang) mau bahwa itu dipindahkan dengan bentuk berdiri. Iya kalau jalan mulus sekali seperti Autobahn (jalan tol di Jerman-red) dari Yogyakarta ke sini, mungkin bisa dipikirkan. Tetapi jalan sangat-sangat ruwet, dan bisa rusak total kalau dipindah (dengan cara berdiri)," ungkap Peter Carey.
Hal itu disampaikannya usai Curator's Talk pameran "Aku Diponegoro" di Galeri Nasional, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat ( 6/2/2015) malam. Pameran ini sendiri berlangsung 6 Februari - 8 Maret 2015, memajang benda-benda peninggalan Diponegoro, dan berbagai macam lukisan sang pangeran.
Padahal pihak panitia, sudah mendatangkan kurator, termasuk dirinya, dan menjelaskan bagaimana seharusnya jubah itu bisa dibawa dengan aman dengan cara ditidurkan, diluruskan di suatu wadah yang menjamin keamanannya. Namun, rupanya, Pemda Magelang dan Jawa Tengah tetap tidak mengizinkan untuk dibawa.
"Ya, mereka tidak terima jaminan, dan memunculkan syarat yang tidak masuk akal," keluhnya.
Peter yang berkebangsaan Inggris ini kemudian membandingkan di negaranya, misal ada pameran tentang sosok pahlawan seperti William Wallace, yang adalah pahlawan kemerdekaan Skotlandia, ceritanya pernah diangkat dalam film 'Brave Heart' yang dibintangi aktor Mel Gibson. Bila Pemda-pemda Inggris, bekas negara induknya meminjam memorabilia William Wallace untuk dipamerkan, maka Skotlandia tentulah akan meminjamkan.
"Kalau saya dari Skotlandia, saya akan pinjamkan. Ini saya sama sekali tidak mengerti. Mengapa tidak mau meminjamkan untuk warga sendiri yang ingin tahu tentang sejarah dan identitas mereka dan lebih memilih menyimpannya?" keluh profesor tamu di Fakultas Ilmu Budaya UI ini.
Dia juga menyoroti tentang cara penyimpanan jubah itu yang menurutnya kurang pas. Jubah itu, menurutnya, nyaris lapuk dimakan rayap.
"Well, ada beberapa kondisi di mana jubah itu dimakan rayap. Tidak di tempat yang benar. Jubah dimasukkan lemari, tidak ada perlindungan pada rayap. Hanya digantung begitu selama 40 tahun," kritik Peter.
"Ya mungkin mereka takut bahwa di sini, jubah itu dikagumi, mungkin takut tidak dikembalikan. Atau mereka malu kalau itu dalam keadaan rusak. I dont know," tuturnya.
Dalam buku katalog pameran 'Aku Diponegoro', jubah perang sabil Diponegoro usai Perang Jawa 1829 disimpan oleh putra menantunya, Basah Mertonegoro dan disimpan turun temurun selama 100 tahun atau 1 abad. Kemudian pada tahun 1970-an, pusaka itu dipinjamkan secara permanen ke Museum Bakorwil II Magelang, yang memajangnya di Ruang Diponegoro.
Di museum itu, jubah itu menjadi objek pemujaan, para pengunjung kerap menarik sejumput sutra untum disimpan sebagai jimat. Akibatnya, bagian bawah jubah kerap ditambal karena pengambilan ilegal itu.

Sumber berita Detik.com

Keris Nogosiluman Dimanakah Kini Keberadaannya ?

Keris Nogosiluman Dimanakah Kini Keberadaannya ?
pustakadigitalindonesia.blogspot.com
Selain keris Kiai Bondoyudo yang dikuburkan bersama jasad Pangeran Diponegoro, masih ada keris yang tercecer. Keris itu bernama Kiai Nogosiluman, yang mestinya dilacak pemerintah RI. (Baca juga: Keris Kiai Bondoyudo Dikubur Bersama Jasad Diponegoro di Makassar)
"Yang paling penting adalah keris Diponegoro, Nogosiluman, yang dikirim ke Belanda sebagai tanda penaklukan dari Diponegoro. Serta, keris dari Hamengkubuwono kedua," demikian kata sejarawan peneliti Diponegoro, Peter Brian Ramsey Carey menjawab pertanyaan tentang berapa banyak peninggalan Diponegoro yang masih terserak di luar negeri.
Hal itu dikatakan Peter usai Curator's Talk pameran 'Aku Diponegoro' di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2015) malam.
Peneliti naskah "Babad Diponegoro" selama 40 tahun ini menekankan pentingnya keris Kiai Nogosiluman ini, karena keris itu dirampas dan dikirim ke Belanda bersama Tombak Kiai Rondhan dan pelana kuda, sebagai bukti sang pangeran telah ditaklukkan dan ditangkap pada 11 November 1829. Keris, tombak dan pelana diserahkan pada Raja Willem I yang bertahta 1813-1840 di Den Haag.
Raden Saleh, pelukis yang sedang magang di Belanda antara 1830-1839 dipanggil Istana di Den Haag untuk mendeskripsikan benda-benda pusaka, termasuk keris Kiai Nogosiluman.
Kemudian, pihak Kerajaan mengeluarkan beberapa benda pusaka, ada yang dikembalikan ke Indonesia, ada yang dihadiahkan kepada organisasi veteran perang. Yang sudah dikembalikan ke Indonesia adalah tombak dan pelana kuda, pada tahun 1978 oleh Ratu Juliana, di bawah ketentuan Kesepakatan Budaya Belanda-Indonesia tahun 1968. Yang dihadiahkan ke organisasi veteran perang adalah keris Kiai Nogosiluman.
Kini, keberadaan keris Kiai Nogosiluman itu simpang siur. Informasi terakhir yang diketahui Peter, keris itu berada di dalam museum etnografi di Leiden, Belanda.
"Keris Nogosiluman itu harus dilacak. Harus ada pengumuman, kalau bisa kirim pawang ke sana (Belanda), seorang dukun untuk lihat, bagaimana, di mana itu," kata Peter setengah bercanda.

Sumber berita DetikNews