Showing posts with label Pendakian. Show all posts
Showing posts with label Pendakian. Show all posts

Monday, August 4, 2014

Firmansyah Kasim (23) Penerima Beasiswa, Kandidat Doktor Fisika Partikel Universitas Oxford

Firmansyah Kasim (23) Penerima Beasiswa, Kandidat Doktor Fisika Partikel Universitas Oxford 
kompasiana.com

Di balik kesederhanaan dan senyum ramahnya, mungkin tidak ada yang menyangka, Firmansyah Kasim (23) merupakan kandidat Doktor Fisika Partikel Universitas Oxford di Inggris.

Saat ditemui detikcom di Warkop Bundu, jalan Rusa, Makassar, Senin (4/8/2014), pria yang akrab disapa Immang ini mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa sekolah di luar negeri. Immang merupakan penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Ketika duduk di bangku SMA, di SMA Islam Athirah, putra bungsu pasangan Kasim dan Farida kelahiran 26 Januari 1991 ini pernah meraih medali emas di 38th International Physics Olympiad, Juli 2007 di Isfahan, Iran dan pada April 2007 juga meraih medali emas di Asian Physics Olimpiad (APhO) di Beijing,Tiongkok, termasuk beberapa penghargaan internasional lainnya.

Selain sibuk menimba studi di negeri Ratu Elizabeth ini, Immang merupakan warga Indonesia pertama yang aktif di Lembaga Penelitian Fisika Partikel di Universitas Oxford. Selain itu pula ia juga aktif sebagai peneliti di CERN (Conseil Europe;ene pour la Recherche Nucle;aire) laboratorium penelitian Fisika Partikel dan Nuklir terbesar di dunia, yang berada di Jenewa, Swiss.

Di jurusan Fisika Partikel Oxford ini pula Immang sealmamater dengan fisikawan dunia, Stephen Hawking. Jika tak ada aral menghalang, dalam 2 tahun ke depan Immang akan meraih gelar Doctor Philosopy atau biasa disingkat DR. Phil bidang Fisika Partikel, gelar kebanggaan alumni Universitas Oxford.

Immang berharap akan semakin banyak anak Indonesia yang mengikuti jejaknya, menimba ilmu di universitas ternama di dunia. Syaratnya, tekun belajar dan pandai memanfaatkan peluang beasiswa sekolah di luar negeri.

"Saya berharap bisa mengabdikan diri untuk bangsa setelah selesai menimba ilmu di Oxford dan semakin banyak pula putra-putri Indonesia yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas, seperti di Oxford," pungkas alumnus jurusan Teknik Elektro ITB ini.

Sumber berita DetikNews

Monday, May 5, 2014

Bisnis Pendakian Everest Lumpuh Akibat Mogok Para Sherpa

Bisnis Pendakian Everest Lumpuh Akibat Mogok Para Sherpa
belantaraindonesia.org
Pendaki asal Italia, Claudio Tessarolo, sudah berada di base camp pendakian Gunung Everest selama 10 hari lebih. Tapi kejelasan akan rencananya mendaki gunung tertinggi di dunia itu tak kunjung datang.

Semua bermula sejak terjadinya bencana salju longsor yang menewaskan 13 Sherpa dan tiga hilang di Khumbu Icefall di lereng Everest pada 18 April lalu. Selama berhari-hari sejak bencana itu para pendaki tinggal dalam ketidakpastian. Satu per satu anggota tim Tessarolo pergi.

Pada pekan lalu, Tessarolo dan timnya yang tersisa akhirnya memutuskan untuk pulang. “Untuk pertama kali masyarakat lokal mengambil keputusan mengenai Everest,” katanya kepada CNN, pada pekan lalu.

Secara resmi, Sherpa sebetulnya tak melarang para pendaki naik ke gunung. Tapi tanpa bantuan mereka, pendakian ke Everest tak ubahnya bunuh diri. “Tanpa Sherpa, kami tak bisa mendaki dan tak ada yang bisa kami lakukan lagi,” kata Tessarolo, sambil berkemas-kemas.

Penutupan pendakian Everest sebetulnya bersifat sementara saja. Setelah evakuasi para korban longsoran salju di Para pendaki pun masih punya waktu satu bulan sebelum monsoon tiba.

Tapi banyak Sherpa yang emoh bekerja. Longsoran salju yang menimpa 50 orang dan menewaskan 13 orang dan 3 orang hilang--kebanyakan Sherpa, telah membuat membuat para Sherpa memutuskan mogok memandu para pendaki naik ke atap dunia itu.

Alasan para Sherpa tak mau bekerja bermacam-macam. Ada yang masih berduka lantaran sanak keluarganya termasuk ke dalam korban longsoran. Yang lain memakai alasan religius. Menurut mereka, ada kode spiritual Sherpa yang telah dilanggar sehingga bencana terjadi.

Ada pula Sherpa yang tak mau naik dengan alasan politik. Di antara para Sherpa sebetulnya terbagi ke dalam dua kubu. Kubu pertama adalah Sherpa muda yang bekerja di operator kecil dan kurang bagus dalam pemberian upah dan tunjangan. Kubu kedua adalah Sherpa senior yang bekerja di perusahaan yang lebih baik dengan pendapatan yang lebih tinggi.

Aksi mogok di Everest dimotori para Sherpa muda. Mereka menandatangani 13 poin petisi yang diberikan kepada Kementerian Pariwisata Nepal. Mereka meminta 30 persen dari sekitar US$ 3 juta pendapatan pemerintah Nepal dari bisnis pendakian Everest.

Mereka juga menginginkan nilai pertanggungan terhadap kematian naik dari US$ 10 ribu menjadi US$ 20.000. Tapi pemerintah hanya setuju US$ 15.000. Mereka juga meminta kompensasi yang lebih baik terhadap Sherpa yang terluka di gunung dan pemerintah harus membangun tugu peringatan terhadap para Sherpa yang sudah tewas di gunung itu. Untuk kedua permintaan ini, pemerintah Nepal setuju.

Pendakian Everest adalah ladang rezeki bagi para pelaku bisnis di sekitarnya. Termasuk para Sherpa yang bertindak sebagai pemandu maupun porter bagi para pendaki.

Untuk musim pendakian tahun ini, sudah ada 330 pendaki yang mendapatkan izin mendaki Gunung Everest. Mereka ini setidaknya membutuhkan lebih dari 400 pemandu dan porter.

Pengeluaran para pendaki biasanya antara US$ 40 ribu sampai US$ 90 ribu per orang. Tanpa kegiatan pendakian, maka kecil kemungkinannya duit para pendaki itu berpindah ke tangan para pelaku bisnis pendakian di Everest.

Madhusudan Burlakoti, pejabat senior di Kementerian Pariwisata Nepal, mengatakan sebaiknya musim pendakian tetap dilanjutkan. “Tak ada alasan untuk mengira bahwa situasi masih tak aman karena bencana alam ini, kejadian seperti ini bukan sekali ini terjadi,” katanya. 

Sumber berita DrtikFinance

Tragedi Everest, Kemungkinan Akibat Perubahan Iklim

Tragedi Everest, Kemungkinan Akibat Perubahan Iklim
spdi.eu
Sudah lama kekhawatiran timbul di Himalaya. Pemanasan global disebut-sebut telah mempengaruhi alam di pegunungan tertinggi di dunia tersebut. Masalah iklim inilah yang dituding berada di balik tragedi runtuhnya salju yang menewaskan 13 orang dan tiga orang lainnya hilang di Everest, pada 18 April lalu.

Pendaki dan Sherpa sudah lama menyerukan bahwa perubahan iklim diduga telah mengubah kondisi alam di sepanjang rute pendakian ke puncak. Jalurnya disebut semakin berbahaya dari sebelumnya.

Perhatian terhadap cairnya salju dan lapisan es di Himalaya sudah muncul sejak empat tahun lalu, setelah munculnya laporan Intergovernmental Panel on Climate Change. Panel ini memprediksi bahwa rantai gletser di pegunungan besar itu bakal hilang pada 2035.

Riset lain yang dipublikasikan oleh International Centre for Integrated Mountain Development di Kathmandu pada tahun lalu menyimpulkan bahwa gletser di Nepal telah turun 21 persen selama tiga dekade terakhir.

Sementara studi di sisi Tibet oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China telah melaporkan bahwa gletser di Everest turun 10 persen dalam 40 tahun terakhir.

Apa Sherpa, seorang Sherpa yang memegang rekor 21 kali mencapai puncak Everest, juga sudah lama memperingatkan efek itu. “Pada 1989, ketika saya pertama kali mendaki Everest, ada banyak salju dan es, tapi sekarang kebanyakan telah kelihatan batunya,” katanya, pada dua tahun lalu.

Dampaknya, pendaki harus menghadapi bahaya runtuhnya bebatuan. Pendakian pun semakin sulit dan membahayakan sebab pendaki harus memakai sepatu berpaku-paku yang fungsinya untuk menapak di permukaan es, tapi dipakai di batu telanjang.

Pria 53 tahun yang dijuluki “Super Sherpa” ini mengatakan bahwa berbagai masalah sudah muncul akibat perubahan iklim akhir-akhir ini. Cairnya es meningkatkan risiko. Begitu juga bahaya runtuhnya lapisan es dan salju.

Samantha Larson, seorang pendaki yang berada di Everest saat tragedi di Khumbu Icefall terjadi pada 18 April lalu, mengatakan salju dan es itu ibarat lem yang merekatkan rute. Ketika perekat ini mencair, maka segala sesuatu akan terpisah.

“Apakah akan ada hari di mana perubahan iklim membuat gunung ini tak bisa didaki lagi? Saya kira hari-hari itu sudah datang,” kata Larson kepada Telegraph.

Sumber berita DetikFinance