Showing posts with label DBD. Show all posts
Showing posts with label DBD. Show all posts

Tuesday, June 10, 2014

Jika Seseorang Terinfeksi DBD Untuk Kedua Kalinya Ternyata Bisa Lebih Berbahaya

Jika Seseorang Terinfeksi DBD Untuk Kedua Kalinya Ternyata Bisa Lebih Berbahaya
jellygamatluxor.biz

Pernah mengalami suatu penyakit umumnya akan membuat seseorang menjadi kebal untuk terkena penyakit itu kembali. Namun sayangnya hal ini tidak berlaku bagi demam berdarah dengue (DBD). Ya, Anda juga berisiko mengalaminya kembali, bahkan yang berikutnya bisa jadi lebih berbahaya.

"DBD adalah suatu penyakit infeksi yang disertai demam. Penyebabnya adalah virus dengue yang terdiri atas beberapa tipe, yaitu DEN-1, 2, 3 dan 4. Jadi kalau sudah kena DBD belum tentu kebal, kenapa? Kan ada empat tipe. Jadi kalau antibodinya untuk DEN-1, maka dia hanya bisa menetralkan DEN-1 dan tidak mampu menetralkan DEN-2, 3 dan 4. Begitu pun sebaliknya," ungkap Dr dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI, dokter spesialis penyakit dalam RSCM.

Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara 'SOHO #BetterU: Hari Demam Berdarah ASEAN', yang diselenggarakan di Artotel Hotel Thamrin, Jl Sunda, Jakarta, Selasa (10/6/2014).

Dengan begitu, dr Leonard menyebutkan bahwa setiap orang berisiko untuk terkena DBD setidaknya empat kali. Namun penularannya tidak akan terjadi sepanjang tidak ada nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor.

"Infeksi kedua akan lebih berat dibandingkan infeksi yang pertama kali. Karena infeksi yang pertama sudah merangsang sistem imun, maka yang kedua (dengan tipe berbeda) akan menjadi lebih galak, tapi efek sampingnya tidak bagus," tutur dr Leonard.

Menurutnya, infeksi kedua tujuan antibodi bukan untuk menetralkan, sebab tipenya berbeda. Akibatnya, akan terjadi reaksi silang dengan trombosit dan endotel. Lantas apakah fasenya berbeda dibandingkan dengan infeksi kali pertama?

"Fasenya sama, tapi antibodinya lebih cepat, bisa di bawah hari kelima. Jadi biasanya lebih berat dibandingkan yang kali pertama, pendarahannya pun lebih berat," tutup dr Leonard.

Masa inkubasi DBD dimulai dari gigitan hingga timbulnya gejala berlangsung selama dua pekan. Setelah digigit, virus tersebut memasuki masa inkubasi 5-9 hari, berlanjut pada fase akut 1-3 hari dan fase kritis 1-3 hari. Nah, pada fase kritis inilah biasanya terjadi kebocoran plasma.

Sumber berita DetikHealth


Saturday, April 19, 2014

Perubahan Musim, Ukuran Nyamuk di Indonesia Berubah Kecil dan Ganas

Perubahan Musim, Ukuran Nyamuk di Indonesia Berubah Kecil dan Ganas
 
citsoc.blogspot.com
Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria masih menjadi salah satu penyakit menular mematikan di Indonesia. Tahukah Anda bahwa ternyata perubahan iklim juga mempunyai pengaruh terhadap penyebaran penyakit tersebut?

Salah satu perubahan iklim yang hangat dibicarakan adalah isu tentang pemanasan global (global warming). Hasil penelitian Kajian Kerentanan Akibat Perubahan Iklim Pada Penyakit DBD dan Malaria yang dilakukan oleh Research Center for Climate Change University of Indonesia (RCCC UI) dan Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa terdapat kenaikan suhu 2 - 2,5 derajat celcius pada tahun 2100 dengan kenaikan per dekade mencapai 0,2 derajat celcius.

Kenaikan suhu menurut Ketua Bidang Riset RCCC UI Dr Budi Haryanto dapat menyebabkan perubahan pula pada nyamuk penyebar penyakit DBD dan Malaria. Kenaikan suhu menurutnya, dapat membuat rata-rata kehidupan nyamuk menjadi lebih pendek, namun frekuensi makannya lebih sering.

"Rata-rata suhu optimum untuk perkembangbiakan nyamuk antara 25-27 derajat celcius, dan waktu hidup 12 hari. Tapi karena pemanasan global, suhu menjadi 32-35 derajat celcius, sehingga frekuensi makan nyamuk menjadi lebih sering dan cepat. Hanya 7 hari," paparnya pada acara pembacaan hasil penelitian tersebut di Hotel Santika, Jl Pintu 1 TMII, Jakarta Timur, Kamis (17/4/2014).

Tak hanya nyamuk yang semakin lapar dan ganas, pemanasan global juga membuat ukuran nyamuk menjadi lebih kecil dari ukuran normal. Sehingga nyamuk pun menjadi lebih cepat dan lebih agresif dalam menularkan penyakit.

"Perubahan tersebut dapat menimbulkan risiko penularan menjadi 3 kali lipat lebih tinggi," sambungnya lagi.

Tak hanya pemanasan global, perubahan pada kelembapan dan curah hujan pun turut berpengaruh terhadap adaptasi nyamuk. Curah hujan tinggi dan terus menerus yang mengakibatkan banjir dapat membuat sarang nyamuk hanyut sehingga populasi nyamuk berkurang.

"Akan tetapi curah hujan seperti sekarang yang sedang tapi panjang dan terus menerus malah akan menambah sarang nyamuk, sehingga meningkatkan risiko terjangkit penyakit DBD dan Malaria," sambungnya lagi.

Direktur bidang kesehatan lingkungan dari Kemenkes drh. Wilfred H. Purba MM M.Kes mengatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk mengurangi kasus penyakit akibat nyamuk tersebut, terutama DBD dan Malaria.


"Kalau untuk DBD kan kita sering lakukan pembagian abate, sosialisasi ke masyarakat juga fogging. Sedangkan untuk malaria karena nyerangnya malam, kita bagikan kelambu untuk tempat tidur," pungkasnya.

Sumber berita DetikHealth