Showing posts with label kesehatan anak. Show all posts
Showing posts with label kesehatan anak. Show all posts

Monday, February 23, 2015

Manfaat ASI Pada Bayi Dibuktikan Sebuah Studi

Manfaat ASI Pada Bayi Dibuktikan Sebuah Studi
rumahsehatterpadu.or.id
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi di bulan-bulan pertamanya memberikan manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah memperkuat sistem imun dan mencegahnya dari kondisi seperti alergi dan asma.


Peneliti dari Henry Ford Hospital menyebutkan bahwa asupan nutrisi dari ASI pada bayi dapat membantunya memiliki sistem kekebalan tubuh yang jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.

Temuan ini memperkuat teori sebelumnya, di mana disebutkan bahwa pemberian ASI dapat memberikan manfaat yang jauh lebih baik dalam melindungi kesehatan bayi. Hasil studi ini sendiri telah dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Academy of Allergy, Asthma & Immunology di Houston.

"Paparan mikroorganisme atau bakteri dalam beberapa bulan pertama setelah kelahiran sebenarnya membantu merangsang sistem kekebalan tubuh. Jika Anda meminimalkan eksposur mereka, sistem kekebalan tubuh tidak akan berkembang secara optimal," ujar pemimpin studi tersebut, Dr Christine Cole Johnson, dalam situs resmi Henry Ford Hospital, Senin (23/2/2015).

Untuk membuktikan teori ini, para peneliti melakukan enam penelitian terpisah untuk mengevaluasi apakah ASI memiliki efek pada usus bayi, serta hubungannya dengan risiko alergi dan asma.

"Penelitian ini memberitahu kita bahwa terpapar lebih beragam bakteri dapat meningkatkan perlindungan sistem imun terhadap alergi dan asma," imbuh Johnson.

Studi ini juga telah menunjukkan manfaat pemberian ASI pada kondisi kesehatan bayi. Selain membantu meningkatkan daya tahan tubuh bayi, ASI juga mengurangi risiko bayi untuk terkena obesitas, diabetes tipe 2, infeksi telinga, eksim, diare dan muntah.


Sumber berita DetikHealth

Saturday, January 10, 2015

Info : Bayi Juga Bisa Mengalami Susah Tidur

Info : Bayi Juga Bisa Mengalami Susah Tidur
id.theasianparent.com
Tak dimungkiri bahwa ketimbang anak balita, waktu tidur bayi terbilang lebih banyak dan lama. Namun, bukan berarti bayi tidak memiliki gangguan tidur. Sebab, menurut uraian berikut ini, perubahan yang terjadi seiring perkembangan tubuh bayi bisa membuat bayi susah terlelap dan tidak nyaman.
Salah satu teori umum yang dipercaya para ibu adalah bayi berusia enam hingga tujuh bulan merasakan kecemasan dan menangis saat ditinggalkan oleh ibu atau pengasuhnya. Namun, ternyata menurut penelitian medis yang dirilis Baby Centre, mengatakan bahwa sebenarnya saat bayi berusia 12 hingga 18 bulanlah bisa merasakan kecemasan tersebut.
Sebab, saat mencapai usia itu, bayi sudah bisa merasakan dan merindukan hubungan serta komunikasi bayi dengan orang sekitarnya, terutama ibu. Alhasil, saat ibu menjauh darinya, bayi akan langsung menangis, cemas, dan akhirnya mengalami gangguan tidur. Kemudian, penelitian tersebut mengatakan, bayi yang mengalami kondisi demikian umumnya memiliki ibu yang bekerja.
Solusi untuk memperbaikinya adalah saat malam hari, ibu lebih banyak menghabiskan waktu bersama bayi. Lalu, saat waktu tidur, biasakan untuk selalu berada di dekat bayi hingga dirinya jatuh tertidur.
Selanjutnya, fase tumbuh gigi juga merupakan penyebab bayi susah tidur. Sebab, dorongan gigi yang merobek gusi menimbulkan rasa nyeri dan menyebabkan bayi lebih banyak menangis hingga tidak bisa tidur.
Perubahan jenis makanan juga diklaim sebagai penyebab bayi tidak bisa tidur. Terutama ketika berada pada peralihan antara makanan lunak menjadi padat. Namun, tidak semua bayi mengalami kondisi ini.
Untuk menghindari bayi susah tidur, para ibu sebaiknya menciptakan kondisi dan situasi yang nyaman bagi si kecil. Sebab, ketika waktu tidur bayi berkurang bisa mengakibatkan serangkaian penyakit dan keluhan yang berisiko tinggi terhadap perkembangan motoriknya.

Sumber berita Kompas.com

Friday, December 19, 2014

Mitos : Menjadikan Bibir Merah Pada Bayi Baru Lahir

Mitos : Menjadikan Bibir Merah Pada Bayi Baru Lahir

pixabay.com
Sebagai seorang ibu, tentunya wajar jika berharap bayinya dapat tumbuh menjadi sosok yang rupawan dengan wajah mulus dan bibir yang merah merekah. Bahkan, banyak yang percaya bahwa jika madu dapat membuat bibir bayi yang hitam menjadi lebih cerah.
Praktik mengoleskan madu di bibir untuk membuat bibir bayi menjadi lebih cerah tersebut disanggah oleh dokter. Menurut dr Rini Sekartini, SpA(K), konsultan tumbuh kembang dari RSCM, tidak ada hubungan antara mengoleskan madu di bibir bayi dengan membuat bibir bayi menjadi lebih cerah.
"Karena yang memengaruhi warna kulit itu kan pigmen ya. Pigmen itu turunan atau genetik dari orang tua. Jadi mau dioleskan apapun, kalau memang genetiknya bibirnya agak hitam ya akan tetap seperti itu," tutur dr Rini ketika ditemui di Hongkong Cafe, Jl Sunda, Menteng, Jakarta Pusat dan ditulis Jumat (19/12/2014).
Ditambahkan dr Rini, sangat riskan mengoleskan madu di bibir bayi hanya untuk membuatnya terlihat lebih cerah. Sebabnya, madu bisa saja masuk ke dalam tubuh bayi karena tertelan.
"Bayi kan belum boleh dikasih madu ya, apalagi bayi baru lahir. Madu itu boleh diberikan ketika umurnya sudah di atas satu tahun," tambah dokter yang juga menjabat sebagai ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jakarta Raya ini.
Tak hanya untuk bibir, pernyataan dr Rini tersebut juga berlaku untuk seluruh bagian kulit bayi. Dikatakan dr Rini bahwa dalam satu sampai tiga bulan pertama sejak kelahiran, kulit bayi memang akan berubah.
Bayi yang semula kemerah-merahan, akan berubah menjadi kecokelatan. Sementara bayi yang lahir agak pucat nantinya akan berubah menjadi lebih cerah.
"Bisa juga misalnya karena kurang kena sinar matahari, bayi akan menguning. Itu karena pengaruh bilirubinnya," ungkap dr Rini.
Namun jika perubahan warna kulit hanya terjadi di satu tempat, maka patut dicurigainya adanya suatu indikasi adanya gangguan di kulit. "Kalau warna kulitnya tidak merata, di sini agak merah, di sana putih atau pucat, bisa jadi gangguan kulit, harus dibawa ke dokter," pungkasnya.

Sumber berita DetikHealth

Tuesday, November 18, 2014

Anak-anak Sebaiknya Dijauhkan dari Minuman Berenergi

Anak-anak Sebaiknya Dijauhkan dari Minuman Berenergi

Minuman berenergi memiliki rasa yang manis dan dijual bebas. Minuman ini dapat berbahaya bila dikonsumsi anak. Karena selain mengandung gula juga mengandung kafein dan zat aditif yang berbahaya.

Seperti yang dilansir Fox News (17/11/2014), lebih dari 5.000 kasus orang jatuh sakit karena mengonsumsi minuman berenergi. Hal ini telah dilaporkan ke pusat kontrol racun AS antara tahun 2010 dan 2013. Hampir setengah dari kasus ini dialami oleh anak-anak.

Para peneliti menemukan efek dari konsumsi minuman berenergi pada anak dapat sebabkan kejang, irama jantung yang tidak teratur serta tekanan darah yang sangat tinggi yang berujung pada risiko kematian. Anak yang berusia di bawah 6 tahun sering mengonsumsi minuman ini tanpa tahu bahayanya.

"Untuk mengonsumsi minuman berenergi, anak-anak cukup pergi ke toko, membeli dan mengambilnya dari lemari es." tutur Dr. Steven Lipshultz selaku kepala dokter anak di Rumah Sakit Anak di Michigan.

Minuman berenergi banyak mengandung gula dan kafein. Tak hanya itu, minuman berenergi juga mengandung bahan-bahan lainnya seperti taurin, carnitine serta amino acid.
Walaupun pengaruh dari taurin dan kafein masih perlu diteliti secara mendalam, akan tetapi banyak orang menduga bahwa kombinasi dari dua zat ini dapat menghasilkan efek samping yang berbahaya.

Untuk menghindari hal ini, sebaiknya berikan anak-anak minuman manis yang mengandung rasa buah-buahan seperti smoothies dan susu. Serta jauhkan minuman berenergi dari jangkauan anak-anak dan selalu awasi saat anak-anak jajan baik di toko ataupun supermarket.

Sumber berita DetikFood

Saturday, September 27, 2014

TIPS : Agar Supaya Rambut Anak Tebal dan Subur

TIPS : Agar Supaya Rambut Anak Tebal dan Subur
nama-bayi-modern.blogspot.com
Ada orangtua yang sengaja mencukur rambut bayinya dengan tujuan supaya si kecil memiliki rambut lebat dan tebal. Padahal, hingga sekarang belum ada referensi yang mengakuinya. Soalnya, lebat dan tebalnya rambut bergantung pada folikel (tempat tumbuhnya rambut) rambut yang tersedia. Jadi, ketebalan rambut bayi dipengaruhi juga dengan unsur genetik dari orangtuanya.
Walau demikian, ibu tetap bisa melakukan sebuah upaya supaya rambut si kecil terlihat lebat, yaitu mempercepat proses pertumbuhan rambut dan menghasilkan rambut yang sehat. Mencukur rambut lahir adalah salah satu upayanya.

Cara lainnya adalah dengan memberikannya minyak untuk rambut, seperti: minyak kemiri, minyak santan, hair tonic, lalu kita pijat-pijat lembut kulit kepalanya. Dengan cara ini, peredaran darah di kepala bisa lancar dan mulut folikel menjadi lebar, sehingga diharapkan pertumbuhan rambut tetap bisa optimal.

Faktor gizi pun berperan supaya rambut menjadi subur dan sehat. Bila kurang gizi, tekstur rambutnya pasti akan terpengaruh. Tapi bukan berarti kalau rambutnya merah dan tipis identik dengan kurang gizi. Soalnya, tekstur rambut antara anak satu dengan lainnya berbeda; ada yang pembawaannya lemas dan hitam, ada juga yang pembawaannya tipis dan merah.

Selain itu, anak yang sering terpapar sinar matahari atau polusi juga rambutnya bisa tipis dan tidak sehat. Begitu pula penyakit, semisal seboroik (ketombe), yang sering terjadi pada bayi atau anak juga ikut memengaruhi.

Sumber berita Kompas.com

Saturday, September 20, 2014

Kekurangan Hormon THYROXINE Pada Ibu Hamil Beresiko Melahirkan Anak Tak Pandai Matematika

Kekurangan Hormon THYROXINE Pada Ibu Hamil Beresiko Melahirkan Anak Tak Pandai Matematika
en.wikipedia.org
Kemampuan berhitung dan matematika memang bukan standar tingkat kecerdasan anak. Hanya saja, penelitian terbaru mengatakan bahwa kemampuan anak untuk berhitung dan matematika sudah ditentukan sejak dalam kandungan.

Penelitian yang dilakukan oleh VU University Medical Center di Amsterdam, Belanda mengatakan bahwa ibu hamil yang kekurangan hormon thyroxine memiliki risiko dua kali lebih besar melahirkan anak yang tak pandai matematika. Pasalnya, hormon thyroxine merupakan faktor krusial dalam pembentukan otak janin.

"Apakah kemampuan matematika ini tetap sama hingga dewasa masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Kami akan terus melanjutkan penelitian ini hingga dewasa," tutur peneliti Dr Martijn Finken, pakar Pediatrik Endokrinologi dari VU University Medical Center di Amsterdam, Belanda, dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (20/9/2014).

Penelitian Dr Finken dilakukan kepada 1.200 anak semenjak mereka berusia 12 minggu hingga ketika mereka mulai masuk sekolah. Dr Finken mengukur kadar thyroxine yang ada di dalam tubuh ibu hamil dan dibandingkan dengan hasil tes matematika dan bahasa anak ketika berumur 5 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa 90 persen anak dari ibu hamil yang memiliki kadar thyroxine rendah masuk ke dalam kategori anak-anak yang mendapat nlai rendah di tes matematika. Selain itu mereka juga memiliki keterlambatan dalam memahami pelajaran berhitung dan aritmatika lainnya.

Yang menarik, hormon ini tidak berpengaruh pada kemampuan anak dalam tes kata-kata dan bahasa. Dr Finken mengatakan bahwa kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh dua faktor. Yang pertama, kemampuan matematika berkaitan langsung dengan kondisi hormon thyroxine pada ibu hamil.

Kedua, kemampuan bahasa tidak ditentukan oleh hormon, dalam artian tidak termasuk dalam bagian yang dibentuk ketika janin membentuk otak. Dr Finken mengatakan bahwa kemampuan bahasa anak lebih erat kaitannya dengan lingkungan sekitar dan keluarga.

Sementara itu Profesor John Lazarus, pakar hormon dari British Thyroid Foundation mengatakan bahwa banyak anak kekurangan thyroxine karena janin tidak bisa memproduksi sendiri hormon tersebut. Janin sangat bergantung pada apa yang dimakan ibu untuk dapat menyerap nutrisi yang mereka butuhkan.

"Ini menandakan masih banyak ibu hamil yang kekurangan zat penting, termasuk iodium yang berguna untuk membentuk thyroxine. Ibu hamil sebaiknya memperbanyak konsumsi susu dan ikan," urainya.

Sumber berita DetikHealth

Sunday, September 14, 2014

TIPS : Memberi Bedak pada Bayi Agar Tidak Menimbulkan Permasalahan Pernapasan

TIPS : Memberi Bedak pada Bayi Agar Tidak Menimbulkan Permasalahan Pernapasan
duniaberbicara.com
Meski beberapa ahli kesehatan sudah mengatakan bahwa bedak bayi bisa berisiko menyebabkan masalah pernapasan pada bayi, tapi masih saja ada ibu-ibu yang memakaikannya ke anak mereka.

American Academy  of Pediatrics  merekomendasikan untuk tidak menggunakan bedak bayi karena berisiko menyebabkan masalah pernapasan.

Bedak bayi dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan kerusakan paru-paru serius jika bayi menghirup partikel dari bedak tersebut. Dan, partikel-partikel kecil itu akan semakin sulit dikendalikan jika sudah bercampur dengan udara luar (setelah digunakan).

Tak jarang, banyak bayi yang paru-parunya teriritasi. Bayi yang paling berisiko adalah bayi prematur, bayi dengan penyakit jantung bawaan, dan bayi yang memiliki RSV atau penyakit pernapasan. Oleh karena itu, agar lebih aman, hindari penggunaan bedak ke tubuh bayi Anda.

Ada yang mengatakan, bedak digunakan untuk mengatasi iritasi kulit bayi. Sebenarnya hal itu bisa berlaku kebalikannya. Jika tubuh bayi tidak dibersihkan dengan benar, bubuk bedak akan menumpuk (terutama di bagian lipatan kulit) dan kemudian menyebabkan iritasi.

Kalaupun Anda memutuskan untuk tetap memakaikannya ke anak, perhatikan cara penggunaannya berikut ini:

- Gunakan sedikit saja.

- Tuang bedak ke tangan Anda terlebih dahulu (jangan langsung ke badan anak) di mana posisi tangan jauh dari anak, usap bedak menggunakan kedua tangan, lalu oleskan ke tubuh anak.

- Setelah digunakan, jauhkan kemasan/wadah bedak dari jangkauan anak.

Sebenarnya hal ini (partikel yang mudah terhirup) tidak hanya berlaku untuk bedak bayi, tapi juga pada bubuk lainnya, seperti bubuk dari tepung jagung, tepung beras, dan lainnya.


Sumber berita Kompas. com



Saturday, August 16, 2014

Kebiasaan Merokok dan Makan Makanan Tak Sehat Bisa Berakibat Pada Buah Hati Anda

Kebiasaan Merokok dan Makan Makanan Tak Sehat Bisa Berakibat Pada Buah Hati Anda
nibayiku.com

Kebiasaan merokok, minum alkohol dan makan makanan tidak sehat ketika muda memang memiliki risiko menyebabkan masalah kesehatan bagi Anda ketika tua. Tak hanya itu, kerugian akibat gaya hidup tak sehat juga bukan hanya dirasakan sendiri, tapi juga anak Anda kelak.

Penelitian terbaru yang dilakukan di Australia mengatakan bahwa salah satu anak sakit-sakitan adalah gaya hidup orang tua saat muda. Kebiasaan merokok, minum alkohol atau makan makanan tidak sehat akan terekam dalam sperma ayah atau sel telur ibu. Akibatnya, anak rentan mengalami masalah kesehatan.

"Orang sering berpikir bahwa selama masih belum mempunyai anak, mereka bisa dengan bebas melakukan apapun, dan berharap ada perubahan ketika sudah mempunyai anak. Kenyataannya, anak bukan memiliki 'rekam jejak' kebiasaan orang tua yang terekam dan akan mempengaruhi kondisi mereka," ungkap ketua peneliti Profesor Sarah Robertson dari University of Adelaide, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (15/8/2014).

Penelitian yang diterbitkan oleh Journal Science tersebut mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan tidak sehat orang tua terekam di sperma dan sel telur, dan akhirnya mengendap di embrio. Sehingga sangat mungkin jika ayah atau ibunya obesitas, anak juga akan mengalami hal yang sama.

Gaya hidup yang terekam di sperma atau sel telur tersebut erat hubungannya dengan faktor gen dan DNA. Terlebih, anak akan lebih memiliki risiko kesehatan jika kedua orang tuanya mempunyai sejarah gaya hidup yang tidak sehat.

Namun Anda tak perlu khawatir. Dikatakan Prof Robertson, proses 'perekaman' DNA di sperma dan sel telur sangat dipengaruhi oleh secepat apa organ genital Anda memproduksi kedua hal tersebut. Biasanya, butuh waktu tiga bulan bagi sperma dan sel telur untuk dapat 'merekam' DNA Anda, sebelum akhirnya sperma atau sel telur diproduksi.

"Beberapa perbaikan gaya hidup dapat membuat Anda berada di jalur yang tepat. Terutama di bulan-bulan terakhir sebelum menikah.

Sumber berita DetikHealth

Thursday, July 17, 2014

TIPS : Inginkan Punya Anak Cerdas  

TIPS : Inginkan Punya Anak Cerdas 
midou-filali.com
Kecerdasan anak sudah bisa dipupuk sejak di kecil di dalam kandungan. Di rahim ibu, otak bayi sudah mulai berkembang. Masa di kandungan juga menjadi waktu pembentukan kemampuan kognitif anak sejak awal. Usia dan kondisi ibu pun memegang peranan utama dari pertumbuhan otak bayi.

"Jika ingin memiliki anak yang cerdas dan berkualitas, sebaiknya memiliki anak di antara usia 23-33 tahun," ujar dr. Bagus Satryia Budi dari Kementerian Kesehatan.

dr Bagus mengungkapkan, jika usia ibu kurang dari rentang waktu itu, ibu membutuhkan gizi untuk dirinya sendiri. Sehingga ketika ibu makan, nutrisi akan diserap oleh tubuh si ibu dan tak jarang anak mengalami malnutrisi. Sedangkan jika usia lebih tua dari rentang itu, kemampuan rahim ibu telah menurun dan tidak elastis lagi.

"Berikan jarak ke anak berikutnya sekitar 4 tahun," saran dr. Bagus saat ditemui detikHealth beberapa waktu lalu seperti ditulis pada Kamis (17/7/2014).

Menurut dr Bagus, jarak usia antar anak adalah dua tahun setelah anak sebelumnya selesai menyusui. Sebab, ketika menyusui, ibu membutuhkan gizi untuk si bayi. Lalu jika hamil lagi maka nutrisi baik tidak akan sampai ke janin. Dapat diperkirakan, kira-kira selang empat tahun usia antar anak.

"Dia bisa pintar tapi tidak bisa menggunakan kemampuan kognitifnya. Jadi bisa pintar tapi belum tentu kaya," tutur dr. Bagus lagi. Ia meyakini, anak yang lahir dengan nutrisi kurang maka kemampuan kognitifnya tidka terlalu baik.

Menurut statistika OECD, Indonesia menempati urutan 5 terbawah dalam hal kemampuan kognitif. Gizi untuk anak haruslah baik. Ibu haruslah mencukupi kebutuhan protein dari daging-dagingan atau ikan. Sedangkan untuk ibu-ibu vegetarian bisa mengonsumsi kedelai untuk mendapatkan protein serupa dengan daging.

"Tapi belakangan daging-daging sudah menggunakan konsentrat dan tidak alami. Jadi, saya kira ikan jauh lebih baik untuk dikonsumsi," tutup dr Bagus.

Sumber detikhealth.com

Monday, May 26, 2014

Berapakah Takaran Yang Aman Untuk Pemakaian Bumbu Penyedap Masakan

 Berapakah Takaran Yang Aman Untuk Pemakaian Bumbu Penyedap Masakan
dibumi.wordpress.com

Meskipun kandungan Monosodium glutamat (MSG) disebut dapat merusak jaringan otak dan membuat kemampuan konsentrasi menurun, bukan berarti penggunaan bumbu penyedap dilarang sama sekali. Lantas seberapa banyak penggunaannya untuk masuk ke dalam kategori 'aman'?

Dijelaskan oleh Rita Ramayulis, DCN, MKes, bahwa berbagai penelitian menjelaskan bahwa glutamat yang dikonsumsi dalam keadaan terikat dengan makanan lain akan lebih lama dimetabolisme oleh tubuh, sehingga tidak berisiko menimbulkan efek negatif.

Jika bumbu penyedap digunakan dalam masakan sehari-hari, Rita menegaskan tidak lantas akan membuat anak menjadi bodoh seperti yang sering dikhawatirkan oleh para ibu.

"Yang membuatnya berbahaya adalah jika si anak mendapatkannya dari jajanan di luar sekolah, karena penggunaan MSG-nya sangat tinggi. MSG sebenarnya termasuk bahan tambahan pangan atau BTP yang diperbolehkan. Tapi ya itu, selama digunakannya tidak berlebihan," pungkas Rita.

Penggunaan MSG atau bumbu penyedap yang disarankan oleh Rita adalah maksimal seperempat sendok teh dalam setiap penggunaannya.

"Misalnya mau masak untuk 5 orang, pakai seujung atau sekitar seperempat sendok teh masih boleh. Itu kan berarti sekitar setengah gram, tidak berbahaya kalau penggunaannya sebanyak itu," terang dosen jurusan Gizi di Politeknik Kesehatan Jakarta II , pada Senin (26/5/2014).

Jurnal Nutritional Science tahun 2000 menjelaskan bahwa asam glutamat dalam darah meningkat setelah seseorang mengonsumsi MSG 30 mg/kg BB/hari.

Sumber berita DetikHealth