Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, October 22, 2014

Jamaah Haji asal Aceh Mendapatkan Wakaf dari Arab Saudi

Jamaah Haji asal Aceh Mendapatkan Wakaf dari Arab Saudi

Jamaah haji asal Aceh mendapatkan wakaf 1.500 riyal (sekitar Rp 4,8 juta) dari pihak Arab Saudi. Pemberian wakaf ini ternyata punya kisah historis yang berkesan.

"Alhamdulillah Rahmat dari Allah kami dapat uang wakaf Aceh sebanyak 1.500 riyal," ujar Ramli (60 tahun) jamaah haji dari Aceh, mensyukuri rejeki dari Allah, saat berbincang dengan Media Center Haji di Makkah, Rabu (22/10/2014).

Sebenarnya banyak jamaah haji asal Aceh yang sudah pernah mendengar hal tersebut. Namun tak pernah tahu angkanya cukup besar untuk tahun ini.

Menurut seorang ulama, Syekh Sulaiman Muhammad Noor Aarsyi, wakaf tersebut punya nama sendiri yakni Habib Bugak Asyi. Wakaf tersebut ternyata berhubungan erat dengan wakaf peninggalan Raja Aceh sejak 200 tahun silam. Yakni pada zaman Turki Usmaniah pada saat kerjaaan Aceh membawa harta dan membangun gedung di Makkah. 

"Bahkan Sultan Iskandar Muda pernah datang ke Arab Saudi dengan membawa emas menggunakan kapal Inggris untuk membantu membangun Masjidil Haram dan membangun rumah Aceh di Makkah untuk tempat tinggal jamaah haji Aceh," ujar salah seorang pengurus wakaf Habib Bugak, Jamaluddin Affan seraya tersenyum.

Wakaf tersebut dibagikan kepada jamaah haji asal Aceh sejak tahun 2006. "Kalau sejak 200-100 tahun sebelumnya, wakaf tersebut untuk apa kami belum bisa menjawab. Namun sejak wakaf tersebut dikelola oleh orang yang diamanahi Pemerintah Arab Saudi kepada Syekh Bukhori, Syekh Al Munir dan Dr Abdullah Tibaltin baru terbuka. Waktu tahun 2006 saya sebagai juru bicara antara Pemerintah Aceh dengan kantor wakaf Aceh di Makkah," terangnya. 

Syekh Sulaiman menambahkan, adanya pemberian wakaf kepada Jamaah Haji asal Aceh ini bisa jadi hikmah dari tsunami yang melanda Aceh. Terlebih saat ini harta nenek moyang orang Aceh yang ada di Makkah masih ada sekitar tujuh gedung. 

"Bahkan dari wakaf ini pernah untuk membeli rumah Putra Mahkota Raja Arab Saudi yang kemudian dibangun gedung untuk jamaah haji Aceh yang memuat 5.000 orang jamaah. Namun baru 15 tahun dibangun tergusur pembangunan Masjidil Haram," kenang Syekh Sulaiman. 

Pengelolaan wakaf ini tak lain adalah warga Aceh yang datang ke Makkah silih berganti sejak tahun 2006 lalu. "Dunia semakin maju dan rapi secara administrasi. Sehingga orang Aceh selama lima tahun belakangan dapat uang dari wakaf Aceh. Sehingga di Indonesia sampai ramai, seluruh rakyat Indonesia kok dapat uang lagi di sana, Setelah mereka tahu problemnya karena wakaf peninggalan nenek moyang orang Aceh setiap tahun. Namun yang berhak mendapat uang wakaf hanyalah jamaah haji kuota Aceh dan berangkat dari embarkasi Banda Aceh," terangnya.

Jumlah wakaf yang diberikan pun naik dari sekitar 1.000 riyal pada awal pemberian menjadi 1.500 riyal pada saat ini.

Sumber berita DetikNews

Sunday, August 3, 2014

Obyek Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, Perpaduan Berbagai Unsur Agama dan Budaya

Obyek Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, Perpaduan Berbagai Unsur Agama dan Budaya

disparbud.jabarprov.go.id

Keraton Kasepuhan, obyek wisata utama di kota Cirebon, Jawa Barat, mungkin sudah dikenal dan sudah dikunjungi. Namun, apakah Anda sudah benar-benar mengenalnya?
Sementara bentuk bangunan dan berbagai koleksi benda kuno di keraton ini sudah banyak diketahui, perpaduan berbagai unsur agama dan budaya dalam rancang bangun serta benda kuno di Keraton Kasepuhan mungkin terlewatkan.

Keraton Kasepuhan dan pernak-pernik yang tersimpan di dalamnya adalah perpaduan dari tiga agama, yaitu Hindu, Islam, dan Buddha, serta tiga budaya, yaitu Jawa, Tiongkok, dan Eropa. Perpaduan ini menjadikan Keraton Kasepuhan lebih istimewa dari keraton lainnya.

Secara keseluruhan, kompleks keraton terdiri dari keraton itu sendiri, alun-alun, serta masjid. Rancangan ini serupa dengan Keraton Yogyakarta dan Solo, merupakan representasi dari arsitektur Islam nusantara.
 
Namun demikian, Keraton Kasepuhan masih memiliki unsur Hindu yang kental. Tembok keraton yang terdiri dari bata merah dan bentuk gapura keraton serupa dengan arsitektur bangunan Hindu seperti keraton Majapahit.

Dari sisi budaya, keberadaan Siti Hinggil dan pendopo-pendopo kecil adalah representasi dari bangunan Jawa. Sementara, terdapat juga keramik-keramik dinding yang punya 2 corak, Eropa dan Tiongkok.
Di Taman Bundaran Dewandaru yang terletak di kompleks tengah keraton, unsur Hindu bisa dijumpai dalam wujud Lembu Nandu. Sementara, unsur Eropa berwujud meriam hadiah dari Thomas Stanford Raffles.
Benda kuno keraton yang menunjukkan dengan jelas perpaduan unsur berbagai agama dan budaya adalah kereta kencana Singa Barong, kereta kencana tua canggih pertama buatan Indonesia.

 Sandy Atmawijaya, salah satu pemandu Keraton Kasepuhan, saat ditemui Kompas.comdalam kunjungan beberapa waktu lalu mengatakan, "Desain kereta ini melambangkan persahabatan antar-agama."
Pada bagian depan kereta, terdapat wujud hewan yang merupakan gabungan dari tiga hewan sekaligus, yakni gajah, garuda, dan naga. Belalai gajah adalah lambang agama Hindu, garuda bersayap burak adalah lambang Islam, sedangkan naga adalah lambang Buddha.

Kereta kencana itu, kata Sandy, istimewa karena sudah mengenal sistem suspensi seperti mobil canggih masa kini. Perbedaannya, teknik suspensi ini tidak menggunakan sistem pegas, tetapi kulit. Ada empat sabuk kulit yang membuat kereta ini lebih nyaman dipakai. Keistimewaan kereta kencana Singa Barong lainnya adalah sayap burak yang bisa bergerak saat kereta berjalan. Ini membuat sayap bisa berfungsi seperti kipas angin bagi sang raja yang ditandu.

Tim Kompas.com memotret Keraton Kasepuhan Cirebon dari darat dan udara. Foto menyuguhkan keberagaman unsur budaya dan agama dalam setiap sisi bangunan keraton tertua di Cirebon tersebut.
Dalam foto udara, terlihat komponen bangunan keraton yang terdiri dari alun-alun, masjid, benteng, siti inggil, Museum Kereta Kencana, Museum Benda Kuno, serta bangunan inti keraton yang menjadi tempat tinggal raja.

Lewat foto 360 derajat, Kompas.com memberi kesempatan kepada pembaca untuk menjelajahi Keraton Kasepuhan secara virtual, dari gapura hingga bangunan inti serta dari bangunan tertua hingga yang teranyar.

Keraton Kasepuhan mulai dibangun pada tahun 1430 oleh Pangeran Walang Sungsang atau Cakrabuana, putera mahkota Kerajaan Pajajaran. Saat keraton mulai dibangun, wilayah Cirebon masih disebut Caruban. Bangunan tertua keraton adalah Keraton Pakungwati. Di kompleks keraton ini, terdapat Sumur Kejayaan. Air sumur itu sering dipakai untuk beragam ritual. Kini, kondisi bangunan tertua ini sudah banyak mengalami kerusakan.

Pada masa Sunan Gunung Jati, bangunan keraton diperluas. Ada pembangunan Siti Inggil atau tanah yang tinggi serta lima bangunan tanpa dinding. Selain itu, ada tambahan pembangunan bagian inti keraton yang kini dipakai sebagai tempat tinggal raja.

Meski kini tak semegah Keraton Yogyakarta dan Solo, Keraton Kasepuhan tetap menarik untuk dikunjungi. Beragam benda kuno tersimpan, mulai dari Lukisan Prabu Siliwangi hingga Ukiran Kama Sutra serta berbagai macam gamelan kuno.

Sumber berita Kompas.com








Sunday, May 11, 2014

Misteri Penyumbang Emas Monas, Darimanakah Asalnya ?

 Misteri Penyumbang Emas Monas, Darimanakah Asalnya ?
wikimedia commons
 Terletak di jantung ibu kota Indonesia, di depan pusat kekuasaan negara, ternyata Tugu Monas masih menyimpan sejumlah misteri, terutama tentang penyumbang emas yang memoles jilatan api tugu. Tak ada dokumentasi siapa saja yang menyumbangkan emas di Monas.

"Memang belum ada (dokumentasinya)," kata dosen sekaligus sejarawan Universitas Indonesia, Abbdurrahman, saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (9/5/2014).

Nama Teuku Markam yang disebut-sebut menyumbang emas itu memang bertebaran di internet, namun tak ada dokumentasi resmi atau buku-buku yang mencatat yang mengulas dan mengkonfirmasi benar atau tidaknya informasi itu. Abdurrahman sendiri mengakui informasi nama saudagar Aceh yang beredar itu belum bisa dikonfirmasi kebenarannya.

"Bisa jadi personal, bisa jadi dari dana revolusi itu (yang menyumbangkan emas di Monas). Di zaman Bung Karno memang ada dana revolusi," tutur mantan Ketua Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UI ini.

Di era Bung Karno, imbuhnya, memang ada politik mercusuar yang membangun megaproyek atau landmark seperti Monas, kompleks Senayan, dan jembatan Semanggi. Untuk emas Monas, tak ada catatan yang bisa dikonfirmasi para sejarawan siapa yang menyumbangnya. Memang bertebaran nama saudagar Aceh yang menyumbang emas di Monas, namun tak satu pun ada bukti otentik yang bisa dibenarkan oleh sejarawan.

"Dari informasi-informasi selama ini kita tidak mendapatkan informasi seperti itu (saudagar Aceh yang menyumbang emas). Memang tidak terbuka secara data. Kalau Aceh yang nyata-nyata (menyumbang) itu dua pesawat itu ya Seulawah (pesawat RI pertama cikal bakal maskapai Garuda Indonesia, red). Kalau saja ada dokumen resmi," tuturnya.

Mengapa data penyumbang itu tidak tercatat dalam dokumen resmi? Abdurrahman menduga salah satu penyebabnya saat pergantian rezim dari Soekarno ke Soeharto, ada de-Soekarno-isasi

 Pasca Soeharto naik ada de-Soekarno-isasi, begitu juga pasca Soeharto turun, ada de-Soeharto-isasi. Ya itulah poltik," tuturnya.

Dia mengakui para sejarawan memang masih meneliti dan mencari tahu mengenai emas Monas ini. Termasuk meneliti dokumen-dokumen di Arsip Nasional.

"Memang belum ada, kita kalau mengambil acuan dari situ (Arsip Nasional). Kadang Kemenhan tidak memberikan ke Arsip Nasional, bisa masih dimuseumkan atau belum dikeluarkan, mungkin terkait kebijakan tertentu. Seharusnya kalau sudah 25 tahun lebih sudah boleh dibaca itu," tutur Abdurrahman.

Sebelumnya, sejarawan LIPI Asvi Warman Adam juga mengatakan tidak mengetahui persis siapa pemberi sumbangan emas di puncak Monas ini. Asvi yang ditanya soal emas ini hanya bertutur, memang ada bantuan emas dari beberapa daerah di Indonesia saat pembangunan Monas. Namun siapa orangnya yang membantu, sejarawan LIPI ini tak tahu persis.

"Kalau soal bantuan emas itu kan memang ada. Tapi kan dibelikan untuk pesawat terbang," kata Asvi Marwan saat ditemui di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (7/5/2014).

Asvi tak merinci berapa jumlah pesawat yang dibeli Indonesia dari sumbangan emas itu. Namun, selain untuk emas di Monas, sumbangan emas juga digunakan untuk membeli pesawat.

"Ya (emas) yang untuk di Monas itu, itu memang untuk pesawat terbangnya ada itu. Sumbangannya ada juga dari Sumatera Barat, ada sumbangan itu. Setahu saya emas yang disumbangkan itu untuk pesawat terbang," paparnya lagi.Tentang asal muasal emas tersebut, Kepala Unit Pengelola Tugu Monas Rini Hariyani mengaku tak tahu sejarah pastinya. Konon, sebagian besar dari emas itu disumbangkan oleh salah satu putra daerah asal Aceh. Namun sang pengusaha mengalami perlakuan kurang baik ketika era Orde Baru.

"Pemberian saudagar dari Aceh. Tapi saya nggak tahu, enggak ada cerita sejarahnya dan nggak diberitakan kan dari mana asalnya dulu,” bebernya.

Menurut dokumen yang bisa dilansir dari situs Perpustakaan PU, 'Tugu Monas: Laporan Pembangunan' yang diterbitkan 17 Agustus 1968, dituliskan lidah api di atas tugu Monas berbentuk kerucut setinggi 14 meter, dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton yang terdiri dari 77 bagian yang disatukan, kemudian dilapis emas murni seberat lebih kurang 35 kg. Tidak disebutkan dari mana emas itu berasal.

Kemudian demi merayakan ulang tahun emas Repulik Indonesia pada 1995, pemerintah saat itu menambah jumlah emas agar genap 50 kilogram.

Sumber berita DetikCom

Sunday, February 23, 2014

Perjalanan Hidup Pendiri WhatsApp Bagian 1

Perjalanan Hidup Pendiri WhatsApp Bagian 1

Jan Koum sedang gembira. Layanan messaging WhatsApp yang ia dirikan bersama sahabatnya, Brian Acton, telah dibeli dengan harga selangit oleh Facebook. WhatsApp dijual USD 19 miliar atau di kisaran Rp 209 triliun.


Perjuangannya dari nol telah membuahkan sukses luar biasa. Kini ia kaya raya dan masuk dewan pimpinan Facebook. Ya, Jan Koum harus susah payah dahulu sebelum merengguk manisnya kejayaan.



Koum yang saat ini berusia 38 tahun, lahir dan dibesarkan di sebuah desa di Ukraina, sebuah negara di Eropa Timur yang saat ini dilanda prahara politik. Ayahnya seorang manajer konstruksi dan ibunya tidak bekerja.



Saat itu, Ukraina juga dilanda gejolak politik cukup parah. Hidup tidaklah mudah bagi keluarga Koum, terlebih mereka adalah keturunan Yahudi.



Orang tua Koum jarang menggunakan telepon karena takut disadap dan bisa berakibat buruk. Tidak banyak yang bisa dilakukan saat itu. Fasilitas di desa juga seadanya.



"Sekolahku tidak punya kamar mandi dalam. Bayangkan musim dingin yang menusuk di Ukraina, cuacanya minus 20 derajat celcius, anak-anak harus mengantre di luar untuk menggunakan kamar mandi," kata Koum mengenang.



Migrasi ke Amerika Serikat



Pada tahun 1990 ketika Koum berusia 16 tahun, ia dan sang ibu berimigrasi ke Mountain View, Amerika Serikat. Langkah ini dipandang paling aman karena gejolak politik dan gerakan anti Yahudi makin besar di Ukraina.



Ayahnya berencana segera menyusul, namun sayangnya tidak pernah kesampaian. Ia meninggal dunia di tahun 1997.



Di Amerika Serikat, keadaan Koum dan ibunya tidak serta merta membaik. Mereka masih hidup kekurangan. Ibunya bekerja sebagai pengasuh bayi dan Koum kadang menyapu toko untuk mendapat upah.



Begitu miskinnya mereka sehingga harus hidup dengan makanan subsidi pemerintah. Mereka tinggal di apartemen dengan dua kamar tidur yang juga dibiayai pemerintah AS.



Cobaan kembali datang setelah ibu Koum didiagnosa menderita kanker. Sang ibu akhirnya meninggal dunia di tahun 2000.



Bocah yang Nakal Tapi Pintar



Koum sejak remaja sudah bisa berbahasa Inggris dengan baik sehingga memudahkannya sekolah di AS. Namun mungkin karena kurang bisa menyesuaikan diri, dia dikenal sebagai anak nakal di sekolah dan sering terlibat perkelahian. Posturnya yang tinggi besar membantunya mempertahankan diri.



Meski bandel, Koum adalah bocah yang pintar. Pada usia 18 tahun, dia berinisatif untuk belajar networking komputer secara otodidak. Dia juga bergabung dengan klub hacker berjuluk w00w00.



Setelah lulus SMA, Koum diterima di San Jose State University. Sambil kuliah, dia bekerja sambilan di beberapa tempat, antara lain sebagai pengujicoba sistem sekuriti di Ernst & Young.



Suatu hari pada tahun 1997, dia bertemu dengan Brian Acton yang kala itu pegawai Yahoo. Keduanya akhirnya menjadi teman akrab. Koum iseng melamar kerja ke Yahoo dan dia diterima sebagai teknisi infrastruktur.



Saat diterima di Yahoo, Koum masih kuliah. Suatu ketika, server Yahoo rusak, padahal Koum masih berada di ruang kelas mengikuti perkuliahan. Dia mendadak ditelepon oleh David Filo, salah satu pendiri Yahoo yang meminta tolong.



"Apa yang kau lakukan di kelas? Cepatlah pergi ke kantor," perintah Filo yang tidak peduli Koum sedang kuliah. Saat itu, tim teknisi Yahoo masih sedikit sehingga semua orang dikerahkan.



Koum menyanggupi permintaan Filo. Setelah kejadian itu, dia memutuskan untuk drop out kuliah sepenuhnya dan fokus bekerja. "Lagipula aku memang benci bersekolah," katanya.



Ditolak Facebook



Setelah ibunya meninggal di tahun 2000, Koum menjadi yatim piatu. Koum pun merasa kesepian. Beruntung, ia terus didukung oleh Acton. Mereka sudah menjadi sahabat karib.



"Dia sering mengundangku ke rumahnya," kata Koum. Mereka sering melakukan aktivitas bersama-sama.



Bersama sama pula Koum dan Acton menyaksikan jatuh bangun Yahoo, tempat mereka bekerja. Acton sempat pula berinvestasi di perusahaan internet pada tahun 2000-an, namun menuai kegagalan dan rugi besar.



Semasa bekerja di Yahoo, Koum sempat bekerja di proyek iklan dan ia membencinya. "Menangani iklan itu bikin depresi. Anda tidak membuat hidup seseorang menjadi lebih baik dengan iklan," katanya. Mungkin inilah alasan WhatsApp bebas iklan.



September 2007 dengan berbagai pertimbangan, Koum dan Acton sepakat meninggalkan Yahoo. Selama setahun, mereka bersenang senang dan berwisata ke Amerika Selatan.



Kemudian keduanya melamar kerja di Facebook. Sayang sekali, keduanya menerima penolakan. Padahal suatu hari nanti, produk mereka begitu diminati Facebook dan dibeli triliunan rupiah.

Perjalanan Hidup Pendiri WhatsApp Bagian 2

Perjalanan Hidup Pendiri WhatsApp Bagian 2

Ditolak Facebook

Setelah ibunya meninggal di tahun 2000, Koum menjadi yatim piatu. Koum pun merasa kesepian. Beruntung, ia terus didukung oleh Acton. Mereka sudah menjadi sahabat karib.


"Dia sering mengundangku ke rumahnya," kata Koum. Mereka sering melakukan aktivitas bersama-sama.



Bersama sama pula Koum dan Acton menyaksikan jatuh bangun Yahoo, tempat mereka bekerja. Acton sempat pula berinvestasi di perusahaan internet pada tahun 2000-an, namun menuai kegagalan dan rugi besar.



Semasa bekerja di Yahoo, Koum sempat bekerja di proyek iklan dan ia membencinya. "Menangani iklan itu bikin depresi. Anda tidak membuat hidup seseorang menjadi lebih baik dengan iklan," katanya. Mungkin inilah alasan WhatsApp bebas iklan.



September 2007 dengan berbagai pertimbangan, Koum dan Acton sepakat meninggalkan Yahoo. Selama setahun, mereka bersenang senang dan berwisata ke Amerika Selatan.



Kemudian keduanya melamar kerja di Facebook. Sayang sekali, keduanya menerima penolakan. Padahal suatu hari nanti, produk mereka begitu diminati Facebook dan dibeli triliunan rupiah.



Merintis WhatsApp



Pada Januari 2009, Koum membeli iPhone. Ia kemudian menyadari toko aplikasi App Store akan menjadi bisnis yang besar. Mendadak ia punya ide menarik.



Suatu hari, dia ikut berkumpul di kediaman pria bernama Alex Fishman, di mana tiap minggu, komunitas orang Rusia berkumpul di sana. Koum mengobrol soal ide mentahnya mengenai cikal bakal WhatsApp.



"Jan menunjukkan padaku buku alamat kontaknya di telepon. Dia pikir akan keren jika bisa memiliki status di samping nama individu," kata Fishman. Status itu akan menunjukkan apakah individu itu sedang sibuk, baterainya hampir habis atau sedang berada dalam gim. 



Koum kemudian menemukan nama program tersebut, yaitu WhatsApp yang terdengar familiar seperti kalimat whats up.Seminggu kemudian pada 24 Februari 2009, Koum mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California. Aplikasi itu sejatinya belum dibuat, namun dia nekat jalan terus.



Koum menghabiskan waktunya melakukan kode untuk sync aplikasi dengan nomor ponsel di seluruh 

dunia. WhatsApp versi awal pun jadi. Namun demikian, aplikasi itu belum sempurna dan sering crash. Saat peluncurannya, hanya ratusan jumlah download, kebanyakan teman teman Fishman dan Koum sendiri.



Hampir Menyerah

Koum hampir saja berhenti di tengah jalan dan berniat mencari pekerjaan saja. Namun Acton mencegahnya, ia melihat potensi besar WhatsApp. "Kamu idiot jika berhenti sekarang. Berikan waktu beberapa bulan lagi," kata Acton ketika itu.



Koum pun jalan terus meski ragu-ragu. Pertolongan kemudian datang dari Apple yang meluncurkan push notifications di Junia 2009. Fitur ini memodifikasi Koumupdate WhatsApp sehingga setiap kali pengguna mengubah status, otomatis mengabarkan pada setiap orang di jaringan.



"WhatsApp kemudian menjadi instant messaging," kata Fishman. Jan menyadari ia telah menciptakan WhatsApp sebagaiinstant messaging baru dari sebelumnya hanya ditujukan sebagai aplikasi untuk update status di kontak



Saat itu, layanan messaging populer yang menjadi pesaing hanya BlackBerry Messenger (BBM), namun kelemahannya terbatas hanya bisa digunakan di BlackBerry. Koum kemudian merilis WhatsApp 2.0 dengan fitur messaging dan jumlah penggunanya naik menjadi 250 ribu.



Potensi WhatsApp membuat Acton semakin tertarik. Ia berhasil menarik pendanaan dari lima orang mantan karyawan Yahoo senilai USD 250 ribu. Acton pun bergabung secara resmi dan bersama Koum, mereka memiliki saham WhatsApp sampai 60%.



WhatsApp pun kemudian dibuat untuk bermacam platform populer termasuk iPhone, Android dan BlackBerry. Mereka memilih metode aplikasi berbayar dan akhirnya mampu menuai pendapatan USD 5000 per bulan di awal tahun 2010.



Pada Desember 2009, WhatsApp untuk iPhone bisa dipakai untuk mengirim foto. Kemudian semenjak itu, pertumbuhan user WhatsApp tak terbendung. Awal tahun 2011, WhatsApp sudah masuk top 20 aplikasi di App Store Amerika Serikat.



Koum sendiri masih terkesan malu malu dan tak mau mempublikasikan WhatsApp secara berlebihan. "Marketing dan media membuat Anda malah tidak fokus pada produk," kata Koum.



Dibeli Facebook



Kesuksesan luar biasa WhatsApp membuat investor berdatangan ingin berinvestasi. Akhirnya Koum dan Acton memutuskan untuk menerima pendanaan senilai USD 8 juta dari Sequoia. 



Pada bulan Februari 2013, jumlah pengguna WhatsApp sudah tembus 200 juta dan terus tumbuh. Sequia kembali menanam dana USD 50 juta dan membuat WhatsApp bernilai USD 1,5 miliar.



Potensi WhatsApp yang luar bisa membuat Facebook dan Google berebut meminangnya. Akhirnya, para pendiri WhatsApp setuju dibeli Facebook senilai USD 19 miliar. 



Koum pun bisa tertawa lebar. Kerja keras dan hidupnya yang penuh perjuangan sudah berujung kesuksesan berkat WhatsApp. Kekayaan Koum yang memiliki 45% saham WhatsApp diperkirakan melonjak jadi USD 6,8 miliar. 



Kendati sudah dibeli Facebook, Koum berjanji WhatsApp tidak akan banyak berubah. Dan tidak akan dimasuki iklan. "Tiada yang lebih personal dari komunikasi yang Anda lakukan dengan teman dan keluarga, dan menginterupsi hal itu dengan iklan bukan solusi yang tepat," tutur Koum. "Lagipula, aku tumbuh di sebuah dunia yang tak kenal iklan. Tak ada iklan di Uni Soviet yang komunis," imbuhnya. 



Dikutip dari Detik.com