Showing posts with label Obesitas. Show all posts
Showing posts with label Obesitas. Show all posts

Monday, January 12, 2015

Minuman Bersoda Dapat Memicu Obesitas

Minuman Bersoda Dapat Memicu Obesitas
radiodfm.com
Minuman berkarbonasi atau bersoda yang populer dengan istilah soft drink banyak mengandung gula maupun pemanis buatan. Pakar mengatakan bahwa pemanis ini biasanya mengandung jumlah kalori yang tinggi.
Pakar gizi klinis dari Siloam Hospital, dr Inge Permadhi, SpGK mengatakan, kandungan gula atau pemanis buatan yang terdapat di minuman bersoda memiliki kalori yang tinggi. Jika diminum berlebihan, kalori tersebut akan mengendap dan berubah menjadi sel lemak.
"Jadi kalori itu kan sumber energi. Nah, kalau kita minum itu banyak-banyak tapi kita nggak beraktivitas, nggak terbakar kalorinya, tubuh akan menyimpannya sebagai cadangan energi dalam bentuk sel lemak," urainya.
"Nah sel lemak ini yang nantinya akan menumpuk. Awalnya berat badan naik tapi lama-lama jadi berlebihan dan obesitas jika tidak dibakar," paparnya lagi ketika dihubungi detikHealth, dan ditulis Selasa (13/1/2015).
Dikatakan dr Inge bahwa pertambahan berat badan rentan terjadi pada orang yang doyan minuman bersoda karena kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih dari yang dibutuhkan. Manusia, dikatakan dr Inge, sejatinya mendapat kalori dari makanan yang dimakan.
Oleh karena itu ia menyayangkan kebiasaan sebagian masyarakat yang masih menenggak minuman bersoda sehabis makan berat. Sensasi dingin dan menyegarkan di tenggoran lebih diutaman daripada jumlah kalori yang nantinya masuk ke tubuh.
"Memang hampir semua orang begitu kan. Minum minuman bersoda setelah makan, enak dan segar katanya. Padahal seharusnya diperhatikan jumlah kalori yang masuk ke tubuh," pungkasnya.

Sumber berita : DetikHealth.com

Saturday, August 16, 2014

Hasil Penelitian Menunjukkan Penambahan Jam Tidur Bisa Mengurangi Obesitas

Hasil Penelitian Menunjukkan Penambahan Jam Tidur Bisa Mengurangi Obesitas
rumahku.com

Makanan cepat saji seperti donat, sandwich, atau burger memang terbilang praktis dan dapat menghemat waktu makan bagi Anda yang selalu terburu-buru. Namun, jenis makanan tersebut mengandung gula dan garam yang tinggi. Jika dikonsumsi setiap hari, Anda berisiko terkena obesitas dan diabetes.

Bekerja dan hidup di era modern seperti sekarang dilemanya adalah terbatasnya waktu untuk mengolah makanan sehat untuk konsumsi harian. Alhasil, lagi-lagi, banyak orang memilih makanan junk food yang instan.

Sebenarnya, sekarang ini banyak restoran dan supermarket yang menawarkan sajian sehat dan bergizi. Namun, akibat telah terbiasa menyantap fast food, membuat banyak orang kurang berselera dengan makanan sehat.

Sebuah studi di University of Chicago Medicine mengatakan bahwa keinginan untuk makanan cepat saji ternyata disebabkan kurang tidur.

Hasil studi menunjukan, kurang tidur meningkatkan nafsu makan orang dewasa yang kelebihan berat badan. Umumnya, mereka memilih makanan fast food sebagai solusi untuk meredam rasa lapar.

Melihat hasil akhir yang demikian, peneliti pun menerapkan waktu tidur ekstra pada partisipan. Lebih kurang mereka diminta untuk tidur 96 menit lebih lama dari biasanya, di mana waktu tidur normal mereka hanya berkisar 6,5 jam.  Alhasil, nafsu makan mereka berkurang hingga 14 persen dan keinginan makanan cepat saji turun hingga 62 persen.

“Banyak orang kurang tidur dikarenakan mereka merasa sibuk dan memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan,” ujar penulis penelitian, Dr Esra Tasali.

Tasali menambahkan, mekanisme menambahkan jam tidur pada partispan terbukti bisa menekan nafsu mengonsumsi makanan cepat saji. “Metode ini bisa berhasil dengan catatan selama tertidur tidak ada intervensi yang membuat Anda terbangun seketika lalu tidur kembali,” imbuhnya.

Selain tidak mudah lapar, penelitian juga melaporkan bahwa keinginan partisipan untuk mengudap makanan ringan tinggi gula dan garam, berangsur-angsur menurun.

 Sumber berita Kompas.com

Thursday, August 7, 2014

Jika Ingin Terhindar dari Kegemukan, Hindari 5 Hal Penyebab Obesitas

Jika Ingin Terhindar dari Kegemukan, Hindari 5 Hal Penyebab Obesitas  
diptadipta123.blogspot.com

Dunia sedang menghadapi epidemi obesitas. Namun, jika Anda menganggap karena masih muda dan fit maka Anda akan terhindar dari kegemukan, pikir lagi. Pola makan tinggi lemak, stres, dan kurang bergerak membuat banyak orang menderita obesitas.

Secara ilmiah, kegemukan terjadi jika asupan kalori lebih banyak dari yang bisa dibakar tubuh. Namun, lebih dari itu, para ahli menyebutkan ada beberapa faktor utama penyebab obesitas.

1. Ketidakseimbangan kalori
Menurut Dr George Bray, pakar ternama bidang obesitas, tak ada alasan tersembunyi dari obesitas. Banyak orang makan secara berlebihan karena rasanya lezat.

Bray merupakan pakar yang memperkenalkan teori "kalori masuk, kalori keluar". Kondisi tersebut tentu akan membuat berat badan bertambah. Selain dari makanan, menurut dia, kalori dari minuman lebih berbahaya karena mengandung fruktosa atau gula buah karena tubuh dengan mudah mengubahnya menjadi lemak.

Kalori cair juga berdampak lebih buruk dibanding makanan padat karena masuk dengan gampang ke dalam perut. Akumulasi kalori yang tidak terbakar ini akan menjadi lemak sehingga Anda dengan mudah menjadi gemuk meski sudah pantang berbagai makanan.

2. Gula
Ada yang kurang dari teori "kalori masuk dan kalori keluar", demikian menurut Gary Taubes, seorang jurnalis sains. Menurut dia, obesitas terjadi karena pola makan kita lebih banyak karbohidrat.

Mengonsumsi terlalu banyak gula akan memicu hormon insulin yang akan memicu rasa lapar dan kalori tersebut akan disimpan sebagai lemak.

3.  Produksi makanan berlebihan
Dibandingkan dengan era tahun 1970-an, saat ini kita dengan mudah mendapatkan makanan. Dalam penelitian yang dilakukan di AS diketahui, saat ini makanan yang diproduksi untuk setiap orang mengandung 750 kalori lebih banyak. Mereka yang kegemukan adalah yang mengonsumsi kalori berlebih ini.

4. Makanan sebabkan kecanduan
Menurut teori Dr David Kessler, dokter dan mantan komisioner FDA, ada alasan mengapa orang makan terlalu banyak. Salah satu risetnya adalah mengumpulkan bungkus makanan yang dibuang di sebuah lapangan parkir Cile.

"Kita sedang mengumpulkan lemak, gula, dan garam, menyusunnya, lalu memasukkannya di makanan kita. Makanan seperti ini ada di mana-mana, dapat dimakan siapa pun, dan diiklankan. Kita tinggal di sebuah karnival makanan," ujar Kessler.

Ia meyakini bahwa industri makanan menciptakan makanan yang sangat kaya rasa sehingga "membajak" bagian otak kita yang mengatakan makanan itu enak. Kemudian membuat kita mau lagi dan lagi sehingga akhirnya kita makan terlalu banyak.

5. Racun
Bruce Blumberg, pakar biologi sedang meneliti obesogen. Zat ini hadir dalam makanan, bungkus makanan dan minuman, perlengkapan mandi, furnitur, cat, dan ratusan perabot rumah tangga yang memengaruhi hormon tubuh kita dan meningkatkan berat badan.

Blumberg sendiri belum tahu seberapa besar pengaruh obesogen terhadap obesitas. Namun, studi terdahulunya menunjukkan bahwa toksin juga berperan dalam menyebabkan obesitas. Blumberg mendapati bahwa tikus yang diberikan tributilin (TBT) menggemuk setelah makan makanan tanpa TBT atau zat yang terdapat dalam vinyl, cat, popok, serta bulir kayu.

Memang belum ada penelitian manusia terhadap TBT, tetapi ada dua obat diabetes yang bersifat sama seperti TBT. Kedua obat ini mengandung gen untuk menyimpan lemak dan menyebabkan kenaikan berat badan.

Bukan hanya TBT, zat kimia dalam parfum, pelembab, beberapa peralatan mandi, teflon, popcorn instan, dan yang paling jahat bisfenol-A (BPA) juga ambil bagian

Sumber berita Kompas.com

Tuesday, August 5, 2014

Bocah Perempuan di India Bisa Habiskan 14 kg Beras Dalam Seminggu

Bocah Perempuan di India Bisa Habiskan 14 kg Beras Dalam Seminggu
prozeny.blesk.cz
Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun asal Bengal Barat, India, bisa jadi adalah salah seorang anak dengan bobot tubuh terberat di dunia.

Suman Khatun, dengan tinggi badan sekitar 1,30 meter, kini memiliki bobot seberat 92 kilogram. Bobot tubuh Suman sama dengan dua kali berat badan penyanyi Australia, Kylie Minogue, atau sama dengan seekor anjing jenis Great Dane.

Berat badan jumbo Suman berasal dari nafsu makannya yang luar biasa. Bayangkan, dalam sepekan, dia mengonsumsi 14 kilogram beras, 8 kilogram kentang, 8 kilogram ikan, dan 180 buah pisang.

Tak hanya itu, dalam sebuah rekaman video, Suman masih sempat "mengemil" jajanan favoritnya, yaitu permen khas Bengal dan kue-kue manis lainnya.

Dengan bobotnya itu, kawan-kawan sebaya Suman terlihat kerdil jika berdiri di sampingnya. Suman juga mulai kesulitan bangun dari tempat tidur dengan postur tubuhnya itu. "Saya sulit berdiri, duduk, tidur, bermain, dan berlarian dengan teman-teman saya," kata Suman.

Kedua orangtua Suman mengaku tak berdaya untuk mencegah dan menghentikan nafsu makan bocah itu. "Saya sangat khawatir dengan masa depannya karena semua anak saya yang lain bertubuh normal. Sangat sedih jika melihat dia," kata sang ibu, Beli Bibi.

Sejauh ini, kedua orangtua Suman belum meminta bantuan dokter meski sudah diperingatkan kondisi ini sangat membahayakan kesehatan anak itu. "Jika kondisi ini tidak dikendalikan, dia sangat berpotensi menderita diabetes atau terkena serangan jantung," kata seorang dokter lokal.


Sumber berita Kompas.com

Hasil Penelitian Terbaru Menemukan Cara Untuk Mengurangi Obesitas

Hasil Penelitian Terbaru Menemukan Cara Untuk Mengurangi Obesitas
personal-trainer.nl
Epidemi obesitas tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga negara berkembang. Padahal obesitas merupakan salah satu faktor risiko dari dari penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan diabetes.

Para pakar pun terus berusaha mencari cara untuk mengurangi epidemi ini. Bicara mengurangi berat badan, saat ini hanya ada beberapa cara untuk mencapainya, antara lain berolahraga, menjaga pola makan, konsumsi obat-obatan penurun berat badan, atau bedah bariatrik.

Namun sebuah studi baru asal Yale menemukan cara baru untuk mencegah obesitas dan diabetes dengan cara menyasar pada reseptor nuklear pada otak. Studi yang dipublikasi dalam The Journal of Clinical Investigation tersebut menemukan, menghalangi reseptor nuklear yang disebut dengan PPARgamma pada beberapa sel otak berdampak pada menurunnya nafsu makan sehingga mencegah kenaikan berat badan. Peneliti melakukan percobaan tersebut pada tikus.

"Tikus menjadi resisten terhadap diet tinggi lemak. Meski memakan lemak dan gula, berat badan mereka tidak bertambah," ujar Sabrina Diano, profesor di Departemen Ilmu Obstetri, Ginekologi dan Reproduksi di Yale School of Medicine.

Karena itu, peneliti percaya dengan menghalangi reseptor PPARgamma pada otak dapat mengontrol respon tubuh terhadap pola makan tinggi lemak tanpa membuat obesitas. Reseptor nuklear merupakan tipe protein pada sel tertentu yang bertanggung jawab pada pengontrolan hormon steroid dan tiroid. Mereka bertanggung jawab dalam perkembangan, homeostasis, dan metabolisme dari organisme.
Peneliti menfokuskan pada sel saraf yang disebut POMC yang ditemukan pada hipotalamus yang berhubungan dengan makanan dan rasa kenyang. Ketika sel saraf POMC diaktifkan, maka akan timbul rasa kenyang dan nafsu makan akan melemah."Ketika PPARgamma dihalangi, maka terjadi peningkatan jumlah sel saraf POMC yang lebih aktif," ujar Diano.

Kendati sangat potensial, namun selama terapi ini masih dikembangkan, maka jalan untuk mengurangi berat badan adalah dengan berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat.

Sumber berita Kompas.com