Wednesday, May 28, 2014

Harus Bagaimanakah Jika Radang Usus Buntu Menimpa Ibu Hamil

Harus Bagaimanakah Jika Radang Usus Buntu Menimpa Ibu Hamil
lusa.web.id
Usus buntu bisa menyerang siapa saja, anak-anak, orang dewasa, dan tak terkecuali ibu hamil. Mengingat ada bayi yang tengah dikandung, lantas bagaimanakah penanganan terbaik usus buntu bagi ibu hamil?

Menurut dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, risiko operasi usus buntu pada kehamilan memang meningkatkan risiko terjadinya keguguran. Tetapi, peningkatan risiko keguguran atau lahir prematur bisa dikurangi dengan pemberian obat-obat hormonal.

"Angka terjadinya keguguran atau lahir prematur disaat operasi usus buntu sangat kecil. Bagaimana bila usus buntu tidak dioperasi? Justru risikonya makin besar," kata dr Hari, pada Rabu (28/5/2014).

Pasalnya, usus buntu yang meradang dan tak segera diatasi lama kelamaan dapat merusak dinding usus dan mengakibatkan usus berlubang. Sehingga isi di dalam usus yang berisi banyak kuman keluar ke dalam rongga perut.

"Akibatnya akan terjadi peritonitis dan akhirnya kuman-kuman tadi masuk ke seluruh tubuh hingga dikatakan keadaan sepsis. Keadaan ini justru jauh lebih berbahaya baik untuk ibu maupun anak," terang dr Hari.

Dihubungi terpisah, dr Ari Kusuma J dari RS Bhakti Yudha Depok menuturkan pada usia kehamilan 8-9 bulan pun tetap sebaiknya dilakukan operasi karena tujuannya yakni untuk menyelamatkan nyawa. Kecuali, jika radang usus buntu kronis, masih bisa dicari solusi lain.

Tapi, ditekankan dr Ari jika dokter bedah mengatakan harus dioperasi berarti memang harus dilakukan dan dari pihak dokter kandungan pasti diupayakan supaya rahimnya tidak kontraksi, misalnya dengan pemberian obat. Lantas, apakah operasi ini akan membahayakan janin?

"Tidak juga, janin itu kan ada di dalam rahim sedangkan usus buntu ada di luar rahim. Ya ibaratnya kita nggak utak-atik rahimnya. Soalnya yang penting itu tadi, kalau didiamkan bisa-bisa berbahaya buat kehamilannya. Saat operasi juga tidak lupa kita berkoordinasi dengan dokter anestesi," kata dr Ari.

Sumber berita DetiHealth

0 komentar:

Post a Comment